Di Balik Naskah Teater Berjudul “Gacor”
Hidup Bisa Terpuruk, Stop Judol Sekarang
Resah melihat maraknya judol, teater “Gacor” muncul sebagai gambaran nyata korban judi online. Lika-likunya dikisahkan hingga korban berujung hancur secara ekonomi dan sosial.
AZZQAL AZQIYA',
Sumbersari, Radar Jember
DI zaman serbamodern, menyampaikan pendapat ataupun unek-unek atas ketidakberesan sistem sosial tidak harus selalu dengan turun ke jalan, membawa spanduk dan baliho besar, demonstrasi.
Memang, bagi sebagian orang demo masih dianggap sebagai cara yang efektif untuk menyuarakan aspirasinya.
Namun, di tangan orang-orang kreatif, seni pertunjukan juga bisa menjadi media menyuarakan aspirasi masyarakat. Hal itu yang dilakukan oleh komunitas Teater Tiang.
Resah melihat Judi online (judol) semakin marak, Teater Tiang kembali mementaskan sebuah lakon. Pementasan yang diberi judul "Gacor" itu memberi gambaran nyata kepada penontonnya. Bahwa secara perlahan judol akan menghancurkan setiap pemainnya.
Baik secara ekonomi maupun sosial. Kejam memang, tapi itu yang terjadi.
Lika-liku korban judol tergambar jelas di panggung teater. Mulai dari kesenangannya memperoleh kemenangan besar hingga akhirnya tidak punya apa-apa. Berakhir depresi sampai paling buruk ada yang nekat bunuh diri.
Meski hanya berdurasi 50 menit, garapan yang mengisahkan korban judol cukup memberi gambaran nyata kepada masyarakat. Bahwa judol akan merenggut apa pun yang dimiliki korbannya.
Penulis naskah Gacor, Yanuar Septian, menjelaskan, teater mencoba mengajak penonton mengkritisi realita sosial dengan cara yang menyenangkan.
Pada lakon Gacor, penonton disajikan kekejaman judol yang sebenarnya.
"Dengan teater, orang awam pun dapat menyadari bahwa ada yang tidak beres di kehidupan sosial sekarang," terangnya.
Dalam ceritanya, awalnya pemeran menunjukkan taruhannya karena sudah menang besar saat main judol.
Sampai-sampai dirinya yakin kalau semakin besar taruhannya, semakin besar kemenangannya. Namun, nasib berkata lain. Setelah taruhan besar dipasang, kemenangan pun tak berujung kembali.
Sampai-sampai harta yang dimiliki habis. Hingga nekat utang di pinjaman online (pinjol) sebagai alternatif memulihkan kondisi ekonomi yang dialami. Tak ada kapoknya, hasil pinjol pun juga ludes digunakan judol.
Hingga tak mampu membayar dan depresi.
Yanuar mengatakan, kisah itu memang diambil dari fakta yang terjadi di Indonesia. Setelah hancur karena judol, kemudahan pinjol selalu menjadi alternatif mereka untuk memulihkan segalanya.
Tapi faktanya, hal itu ternyata malah membuat korban jatuh semakin dalam. "Cerita itu gambaran nyata yang bisa dijadikan pelajaran agar tidak judol," pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital