LOJEJER, Radar Jember - Petani cabai Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, mengalami kerugian semakin besar. Hal itu karena semakin banyak tanaman cabai yang mati. Tiga hari pascabanjir sudah banyak petani cabai yang merugi. Kini petani yang mengalami kerugian semakin banyak. Sebelumnya petani yang tanaman cabainya mati lantaran tergenang banjir di lahan Perhutani, tepatnya di petak 8 RPH Puger.
Kini tanaman cabai yang mati mulai meluas, karena lahan tanaman cabai tergenang banjir. Empat hari lalu genangan air masih di lahan tanaman cabai. Sehingga kini tanamannya sudah mulai layu. Bahkan ada tanaman terong dan kacang panjang yang sudah mulai menguning. Petani terpaksa mencabut tanaman terong yang mulai menguning.
Mariono, ulu-ulu air Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, menceritakan, bahkan selama hujan deras yang terjadi sejak Jumat (3/1) hingga Sabtu (4/1) lalu pintu air di dam sudah dilakukan penutupan. Sehingga air tidak mengalir ke lahan tanaman cabai dan jagung milik warga.
Namun, meskipun pintu air sudah ditutup, air masih meluap dari sungai. air yang menggenangi persawahan milik petani itu air luapan dari sungai. “Saya sudah meminta kepada petani yang mempunyai tanaman cabai untuk segera memanen. Tetapi, karena genangan itu lama, banyak tanaman yang mulai layu. Bahkan pohonnya sudah mulai membusuk karena terlalu lama terendam. Ada beberapa sungai yang airnya masih besar empat hari pascabanjir. Sehingga air yang ada di lahan cabai dan jagung itu tidak bisa mengalir,” katanya.
Di Desa Lojejer, ada sekitar 40 hektare tanaman yang terdampak. Khususnya cabai, totalnya sekitar 40 hektare lahan. Petani yang menanam cabai kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah. “Apalagi sekarang ini bersamaan dengan mahalnya harga cabai. Ada petani yang siap memanen, setelah tergenang banjir menjadi mati,” ucapnya.
Seperti tanaman cabai milik Wiji, warga Dusun Krajan, Desa Lojejer, Wuluhan. Pohon cabai yang masih banyak buahnya itu terpaksa dipanen. Sebab, tanamannya mulai layu setelah tiga hari pohonnya terendam banjir. “Ada warga yang langsung mencabut tanaman cabai dan terongnya. Untuk diganti dengan tanaman lain,” jelas Mariono.
Selain Wiji, beberapa petani cabai di Dusun Krajan juga merugi. Salah satunya Hadi Saroki, warga Dusun Kepel Rekesan, RT 007/RW 008, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Ada 3.000 pohon tanaman cabai rawit jenis baskoro miliknya yang mati. Batangnya mulai membusuk dan daunnya kering. Padahal tanaman cabainya diperkirakan masih bisa dipanen hingga dua kali. “Sembilan hari sekali tanaman cabainya dipanen, dan sekali jual itu bisa Rp 3 juta,” kata ulu-ulu Desa Lojejer tersebut.
Bukan hanya tanaman cabai milik Hadi dan Wiji, tanaman jagung, kacang panjang, terong, dan koro pedang juga mati. Hal yang sama juga menimpa Sudoko, warga setempat yang mempunyai lahan di Perhutani petak 8. Tanaman jagung dan koro pedang miliknya juga mati. “Tanaman yang terendam banjir, semuanya tidak bisa tertolong,” pungkasnya. (jum/c2/nur)
Editor : Radar Digital