Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sabuk Gunung Jebol, Tanaman Petani di Jember Terpaksa Mati

Radar Digital • Rabu, 8 Januari 2025 | 21:12 WIB

 

LANGSUNG DICABUT: Tanaman kacang panjang yang mati langsung dicabut, hanya tinggal tracak/bambu penyangga di lahan Perhutani petak 8, Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. (JUMAI/RJ)
LANGSUNG DICABUT: Tanaman kacang panjang yang mati langsung dicabut, hanya tinggal tracak/bambu penyangga di lahan Perhutani petak 8, Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. (JUMAI/RJ)

LOJEJER, Radar Jember – Gara-gara sabuk Gunung Watangan jebol, banjir merendam tanaman palawija hingga mati, di Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.

Di antara tanaman itu ada cabai, jagung, kacang panjang, terong, dan koro pedang.

Ini terjadi karena akar dan batang tanaman membusuk.

Dampak banjir bagi petani di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, kontan menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Ada tanaman kacang panjang dan terong hingga ditanam dua kali. Hal itu setelah dua pekan lalu juga terendam banjir.

Kini kembali terjadi banjir yang cukup parah. Menggenangi tanaman di lahan Perhutani petak 8 RPH Puger dan seluruhnya mati.

Sudoko, warga setempat, menyampaikan, tanaman jagung dan cabai yang sudah siap dipanen juga mati hingga mengering.

Terjadinya banjir itu karena sabuk gunung jebol setelah diguyur hujan cukup deras selama dua hari dua malam.

“Derasnya hujan mengakibatkan sabuk gunung itu jebol. Banyak petani yang mengalami kerugian. Banyak tanaman lombok-nya mati,” ucapnya.

Dikatakan, ketinggian banjir saat itu mencapai 2 meter.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Wuluhan ini merendam sekitar 6,8 hektare lahan pertanian yang ditanami cabai, jagung, dan kacang panjang. Petani pun mengalami kerugian besar. Apalagi harga cabai saat ini cukup mahal.

Mencapai Rp 110 ribu per kilogram.

Hadi Saroki, 45, warga Dusun Kepel Rekesan, Desa Lojejer, menyebut, setidaknya ada 3.000 pohon cabai rawit jenis baskoro miliknya mati.

Itu karena akar dan batangnya membusuk. Padahal saat itu dia sedang panen.
Setidaknya masih bisa dipanen dua kali lagi. Sekali panen bisa dapat Rp 3 juta.

Tanaman palawija milik warga di Desa Lojejer di lahan Perhutani itu semuanya tak bisa tertolong.

Melihat tanamannya sudah mati, warga pun mencabutnya dan direncanakan akan ditanami tanaman lainnya.

“Warga menunggu akhir musim hujan, karena khawatir ada banjir susulan,” pungkasnya. (jum/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Petani #Gunung