Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Banyak Dugaan Usai Kejadian Mahasiswa Universitas Jember Terjun Dari Lantai 8, Mental Ilnes Hingga Beban Akademik, Ini Pendapat Psikolog

Radar Digital • Rabu, 25 Desember 2024 | 17:11 WIB

 

GELAR RILIS: Pihak Universitas Jember menggelar rilis usai kejadian mahasiswanya yang loncat dari lantai 8.
GELAR RILIS: Pihak Universitas Jember menggelar rilis usai kejadian mahasiswanya yang loncat dari lantai 8.
 

RADAR JEMBER - Universitas Jember (UNEJ) baru-baru ini digegerkan dengan kabar
meninggalnya seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berinisial
DRY, yang diduga meninggal akibat bunuh diri pada 23 Desember 2024.

Kejadian ini memicu perbincangan mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan tragis tersebut.

Informasi yang beredar di sosial media, ada dugaan korban memiliki kepribadian introvert hingga mental Ilnes.

Psikolog Biro Konsultasi Gemilang Psikologi, Marisa Selvy Helphiana, menjelaskan bahwa
gangguan kesehatan mental (mental illness) dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku
seseorang.

Gangguan ini bisa terjadi secara temporer atau bahkan berlangsung lama. 

"Mental illness itu gangguan mental, kondisi kesehatan yang mempengaruhi pikiran, perasaan,
perilaku,suasana hati, atau kombinasi dari semuanya," ujarnya.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai pada seseorang yang sedang mengalami gangguan
kesehatan mental, yang bisa berujung pada keinginan untuk mengakhiri hidup, antara lain
perubahan suasana hati yang ekstrem seperti kecemasan berlebihan, mudah marah, atau
perasaan sedih yang tak terkendali.

Penurunan fungsi kognitif juga menjadi salah satu tanda, seperti kesulitan berpikir jernih, konsentrasi, hingga pengambilan keputusan yang buruk.

"Orang dengan gangguan mental biasanya sulit berpikir cernih, sulit konsentrasi, mudah lupa,
bahkan kadang susah mengambil keputusan," jelasnya. 

Selain itu, perubahan perilaku juga menjadi indikasi penting, seperti mudah tersinggung, cepat
lelah, kehilangan motivasi, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Bahkan, gangguan tidur dan makan dapat mengiringi kondisi ini, seperti insomnia atau makan
berlebihan, yang berisiko pada gangguan kesehatan fisik.

"Mereka bisa merasa terisolasi, tidak memiliki dukungan sosial, bahkan merasa tidak ada
alasan untuk hidup," tambahnya.

Tekanan emosional, seperti yang disebutkan dalam dugaan spekulasi yang beredar mengenai kasus ini,di mana korban menghadapi beban akademik dan tekanan dari organisasi, dapat meningkatkan risiko bunuh diri.

"Tekanan emosional seperti kehilangan orang yang dicintai atau merasa gagal dalam hidup dapat memicu perasaan putus asa," ujar Marisa.

Masalah keuangan, seperti minimnya dukuangan finansial, juga bisa memperburuk kondisi tersebut,terutama bagi mahasiswa yang merantau.

Kepribadian introvert,menurutnya, dapat berkontribusi pada peningkatan risiko gangguan mental.

"Biasanya masalah kesehatan mental itu terkait dengan tipe kepribadian," ujarnya.

Kepribadian introvert sering kali lebih tertutup, yang bisa memperburuk perasaan kesepian dan isolasi.

Namun, pencegahan bunuh diri sangat mungkin dilakukan jika kita memperhatikan tanda-tanda peringatan dan memberikan dukungan. 

"Jika kita menemukan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda ini, seperti sering membicarakan kematian atau merasa putus asa, penting untuk menjadi pendengar yang baik," kata Marisa.

Ia juga menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, jika kondisi seseorang semakin memburuk.

Dengan dukungan sosial yang tepat dan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental, banyak kasus bunuh diri yang bisa dicegah.

"Bunuh diri bisa dicegah jika teman dan keluarga terdekat peduli," tutupnya.

Editor : Radar Digital
#Jember #UNEJ #Fisip Unej #mahasiswa Unej