BADEAN, Radar Jember – Hujan deras Turun. Membuat guru dan murid di SDN Badean 04, Kecamatan Bangsalsari, semakin risau. Bagaimana tidak, bagian atap ruang kelas 1 di SD yang berada di lereng Gunung Argopuro tersebut rawan runtuh.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (19/12), terdapat dua bambu yang berdiri di tengah-tengah ruang kelas tersebut. Bambu itu sebagai penyangga bagian langit-langit yang sudah tidak kuat lagi. Walau kondisi demikian, kegiatan belajar mengajar (KBM) masih dilakukan di ruang kelas itu. “Kalau hujan juga bocor,” ungkap Ernawati, guru kelas 1 SDN Badean 04.
Bocornya atap kelas tersebut, otomatis membuat KBM terganggu. “Kalau hujannya malam hari, maka keesokan harinya yang ngepel bersama wali murid,” ungkapnya.
Atap yang bocor tidak hanya di ruang kelas 1, tapi juga kelas 2 dan kelas3. “Atap dari seng itu memang sudah banyak yang berlubang. Sehingga kalau hujan, ruang kelas menjadi bocor,” kata guru kelas 1 itu.
Sementara itu, di ruang kelas 2 dan kelas 3 pemandangan sedikit berbeda. Tidak ada penyangga bambu seperti di kelas 1. Namun, dua ruang kelas itu justru tidak ada langit-langit atau plafonnya. Kepala SDN Badean 04 Siti Rohana mengatakan, pihak sekolah sudah mengajukan renovasi. Sebab, bangunan kelas 1, 2, dan 3 itu merupakan bangunan lama. “Atapnya masih menggunakan seng yang sudah berkarat. Rangkanya masih menggunakan rangka besi. Ketika hujan, selalu bocor,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, akibat bocor tersebut plafon ruang kelas 1 semakin rapuh. Sementara itu, di ruang kelas yang tidak ada plafon, KBM pada siang hari tidak berjalan kondusif, karena cukup panas di dalam kelas. “Kalau hujan kebocoran. Kalau panas, kepanasan. Di atas pukul 10.00 anak-anak sudah merasakan kepanasan,” tuturnya.
Najwa, siswa kelas 1, mengaku, saat sekolah hujan turun, ia dan teman-temannya mengambil sapu untuk mengepel. “Kadang ngepel itu dibantu ibu kalau hujannya turun,” jelasnya. (jum/c2/dwi)
Editor : Radar Digital