LEDOKOMBO, Radar Jember - Di era digital, interaksi sosial dan aktivitas fisik semakin tergeser oleh layar gadget, terutama di kalangan pelajar yang kini lebih akrab dengan game online. Padahal, permainan tradisional seperti egrang memiliki banyak manfaat, mulai dari melatih keseimbangan dan motorik hingga mendorong interaksi sosial yang menyenangkan.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan digelarnya Festival Egrang XII, di Pasar Lumpur, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Sabtu (14/12). Festival ini sekaligus gelar karya siswa dari 12 sekolah di wilayah tersebut yang telah memasukkan egrang sebagai bagian dari kurikulum mereka.
Pendiri Yayasan Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, menyampaikan bahwa sejak awal 2024, egrang mulai diintegrasikan ke dalam modul ajar di 12 sekolah tingkat dasar dan menengah di Kecamatan Ledokombo. Hal ini terwujud berkat kerja sama antara Tanoker, Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, PLN, dan lainnya.
Menurut dia, egrang tidak hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga masuk ke dalam muatan lokal atau proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). “Bahkan, ada sekolah yang menjadikannya pembiasaan rutin setiap Sabtu,” ujar Ciciek.
Festival tahun ini mengusung konsep baru sebagai arena gelar karya siswa. Setiap sekolah akan menampilkan tarian egrang dengan koreografi unik mereka. Selain itu, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik seperti kolaborasi defile egrang, lomba mewarnai, statue show (manusia patung lumpur), hingga pameran produk kerajinan dan bazar kuliner khas Ledokombo.
Pengunjung dapat menikmati permainan tradisional lainnya seperti polo lumpur, tarung bantal, bakiak, hingga board game. “Kami ingin menjadikan festival ini sebagai ruang inklusif, di mana semua elemen masyarakat, dari anak-anak hingga lansia, dari berbagai latar belakang, bisa ikut merayakan ke-Indonesia-an,” tambah Ciciek.
Festival ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi generasi muda dalam melestarikan tradisi, membangun jaringan antar sekolah, dan menanamkan cinta tanah air melalui permainan tradisional. Harapannya, antusiasme masyarakat terhadap egrang semakin meningkat, sekaligus memperkuat dukungan terhadap program revitalisasi budaya ini. (yul/mau)
Editor : Radar Digital