Pupuk Terbatas, Harus Jeli Memilih
KENAIKAN harga kopi robusta dalam beberapa waktu terakhir menjadi berkah tersendiri bagi para petani kopi. Tak terkecuali petani di Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, yang mayoritasnya menanam kopi jenis robusta.
Kendati demikian, petani masih menghadapi berbagai tantangan yang membayangi. Persoalan sulitnya pupuk hingga keterbatasan sumber daya manusia membuat petani tak bisa mendapatkan manfaat optimal dari sektor pertanian.
Petani kopi robusta, Akhmad Salim, menilai pendistribusian pupuk di wilayah Desa Badean dan sekitarnya kurang optimal. Akibatnya banyak petani yang kekurangan pupuk sehingga harus mencarinya bahkan hingga keluar kecamatan.
“Lahan kopi milik petani di sini rata-rata tidak bersertifikat. Itu berpengaruh ke peredaran pupuk, jadi tidak banyak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Salim mengeluhkan adanya berbagai jenis pupuk yang kualitasnya dianggap buruk. Hal itu semakin mengkhawatirkan. Sebab, beberapa jenis pupuk memiliki nama yang hampir sama, sehingga besar kemungkinan petani salah membeli pupuk yang justru akan membuat mereka rugi.
“Misalnya pupuk NPK, artinya ada kandungan nitrogen, phosphate, dan kalium yang mana itu merupakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kopi. Masalahnya, ada juga pupuk bernama NPK yang (kandungannya) tertera Nutrisi Plus Kompleks. Nah, hal ini cukup berbahaya bagi para petani,” terangnya.
Oleh karenanya, menurut Salim, para petani perlu jeli dalam memilih pupuk dengan membaca setiap detail kandungan yang tertera.
Selain itu, perlu terus belajar serta saling tukar pengalaman agar dapat menjawab berbagai kesulitan di lapangan.
Tak kalah penting untuk melakukan pengamatan pada tanaman kopi agar menghasilkan buah seperti yang diharapkan. “Petani harus update dengan perkembangan teknologi dan informasi. Juga harus bisa belajar secara autodidak. Sebab, di sini tidak ada penyuluh,” ungkap bapak dua anak itu.
Selain permasalahan pupuk, terdapat beberapa faktor lain yang menghambat petani untuk bisa merasakan keuntungan optimal.
Salah satunya yakni terbatasnya lahan untuk menjemur kopi. Salim mengatakan, buah kopi yang baru dipetik harus segera digiling dan dijemur agar tidak busuk.
Proses penjemuran cukup 10 hari. Namun, hal itu akan menyulitkan sebagian petani yang tak memiliki lahan kosong untuk menjemur.
Hal itu membuat sebagian petani memilih untuk memborongkan kopinya ke pengepul. Meskipun keuntungan yang didapat petani berkurang sekitar 10 persen, hal tersebut tetap dilakukan.
Hal itu mengingat sulitnya mencari tenaga kerja untuk memanen kopi.
“Panen kopi itu tidak bisa dilakukan sekali. Harus bertahap setiap minggu sekali. Hal ini terus berlanjut hingga sekitar tiga bulan. Sebab, matangnya tidak bersamaan. Nah, mencari pekerja untuk panen juga lumayan sulit. Jadi, sebagian petani memilih untuk diborongkan ke pengepul,” jelas salim.
Sementara itu, dari segi penjualan, menurut Salim tidak sulit. Sebab, informasi harga selalu sampai ke petani.
Keterbukaan itu membuat para pengepul tidak bisa menentukan harga serendah mungkin.
“Pengepulnya banyak. Jadi, mereka juga bersaing untuk mendapatkan kopi. Harganya juga selalu stabil,” tutup salim. (nur/c2/nur)
Editor : Radar Digital