Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menengok Potensi Desa di Kabupaten Jember Ini, Pengrajin Rantang Ikan, SEPERTI APA?

Radar Digital • Senin, 4 November 2024 | 17:59 WIB
TELATEN: Yaningsih, salah satu perajin rantang ikan di Desa Mlokorejo, Kecamatan Puger, sibuk menganyam di teras rumahnya.(YULIO FA/RADAR JEMBER)
TELATEN: Yaningsih, salah satu perajin rantang ikan di Desa Mlokorejo, Kecamatan Puger, sibuk menganyam di teras rumahnya.(YULIO FA/RADAR JEMBER)

MLOKOREJO, Radar Jember – Selain terkenal sebagai penghasil kopi dan tembakau, Kabupaten Jember memiliki berbagai potensi lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Desa Mlokorejo di Kecamatan Puger, yang dikenal sebagai pusat kerajinan rantang ikan. Desa ini memiliki lokasi yang strategis, dekat dengan pusat penjualan ikan, serta sumber daya bambu yang melimpah. Menjadikannya tempat ideal untuk industri kerajinan rantang ikan.

Perajin rantang ikan di Desa Mlokorejo, Yaningsih, menjelaskan, proses pembuatan rantang cukup rumit dan membutuhkan ketelitian. "Prosesnya memerlukan waktu tiga hari. Hari pertama bambu digergaji, hari kedua ditipiskan, dan hari ketiga baru dianyam menjadi rantang," ujarnya. 

Selain menjadikan kerajinan rantang sebagai sumber penghasilan utama, Yaningsih juga bekerja mengurus sawah di sela-sela kesibukannya. Ia telah memulai pekerjaan ini sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya di usia 20 tahun. “Sebelum banyak yang membuat rantang di sini, saya sudah mulai lebih dulu. Kemudian, banyak yang belajar dari saya hingga kini banyak yang menekuninya,” ungkap perempuan berusia 50 tahun itu.

Setiap harinya Yaningsih mampu memproduksi sekitar 200 rantang. Bambu sebagai bahan baku dibeli seharga Rp 30 ribu per batang, dan untuk lima batang harganya Rp 150 ribu. Dalam hal harga jual, setiap 100 rantang dihargai Rp 44 ribu untuk ukuran besar dan Rp 17 ribu untuk ukuran kecil. Yaningsih dan suaminya bekerja sama. Sang suami membuat rantang berukuran lebih kecil, sehingga mereka dapat memproduksi hingga 500 rantang per hari.

Setiap minggu, hasil kerajinan mereka dikumpulkan dan diambil oleh pengepul setiap hari Sabtu. Salah satu pengepul, Siti Kholifah, mengatakan, rantang tersebut dikirim dan diedarkan di daerah Puger untuk memenuhi kebutuhan para penjual ikan. “Setiap minggunya, kami mengirimkan antara 30 ribu hingga 50 ribu rantang, dengan total biaya sekitar Rp 7 juta,” jelas Siti, yang telah bekerja sebagai pengepul selama enam tahun. Dia menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi dengan gerobak untuk mengangkut rantang-rantang tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Desa Mlokorejo Rosyi Hidayat menyampaikan bahwa pemerintah desa berupaya mendukung UMKM kerajinan rantang di desa tersebut. Meski saat ini pemasaran rantang ikan hanya dilakukan di sekitar wilayah Puger, permintaan yang terus mengalir dari penjual ikan setempat menunjukkan produk rantang ini sudah memiliki pasar yang stabil.

Rosyi menambahkan, selain rantang ikan, Desa Mlokorejo juga memiliki potensi UMKM di bidang produksi keset. Saat ini Pemdes Mlokorejo tengah berupaya untuk mem-branding produk-produk kerajinan di wilayahnya. “Kami terus mengupayakan untuk mengembangkan potensi kerajinan lokal. Harapannya mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” jelasnya. (yul/c2/bud)

 

Editor : Radar Digital
#Jember #Desa