KALIWATES, Radar Jember - Belajar seumur hidup menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh dr Riawati Utama, dokter di RSU Kaliwates Jember. Dengan pengetahuan yang terus diasah, penanganan yang diberikan kepada pasien juga akan semakin maksimal. Termasuk skill menangani pasien dalam keadaan darurat.
Perempuan yang akrab disapa dr Ria itu saat ini bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Kaliwates. Hampir setiap hari dia harus berhadapan dengan pasien dalam keadaan gawat darurat. Sehingga, ketenangan dalam menangani mereka tentu dibutuhkan. Untuk mendapat ketenangan, salah satu caranya adalah mengetahui tindakan yang harus segera dilakukan.
Sebagai dokter di IGD, menurut dia, salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah pasien yang datang bersamaan. Dalam kondisi itu, biasanya dia akan menggolongkan pasien sesuai dengan kategori triase. Yakni merah untuk pasien yang mendapat prioritas utama penanganan, kuning untuk pasien yang bisa menunggu penanganan, serta hijau untuk kondisi pasien dengan gejala ringan. “Pasien yang kami tangani terlebih dahulu yang merah, kuning, baru kemudian hijau,” katanya.
Meski terdapat kategori prioritas, semua pasien harus mendapatkan pelayanan. Oleh sebab itu, dokter di IGD juga harus mampu bekerja sama dengan petugas lain di tempat itu. Mulai dari perawat, bidan, petugas radiologi, petugas laboratorium, hingga transporter. “Kerja sama tim harus benar-benar ditekankan. Gak bisa kalau dokter sendiri, perawat sendiri,” imbuhnya.
Dengan kondisi pasien yang rata-rata darurat, dr Ria menilai, dibutuhkan ketenangan dalam memberikan penanganan, sehingga penentuan decision making atau pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan tepat. Termasuk menentukan pasien yang bersangkutan diarahkan ke dokter spesialis apa, dalam perawatan lebih lanjut. “Kalau tahu apa yang harus dilakukan, ketenangan itu bisa datang,” ucapnya.
Untuk mengetahui tindakan yang harus segera dilakukan, pengetahuan terkait penanganan pasien harus terus ditingkatkan. Hingga kini, dr Ria masih berpegang pada prinsip bahwa dokter harus belajar seumur hidup. Terbukti dia masih menyempatkan waktu untuk terus belajar. Salah satunya mengikuti berbagai seminar kesehatan, workshop, hingga pelatihan. “Harus terus upgrade skill dan di-refresh pengetahuannya,” ujarnya.
Alumnus Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya itu juga menyebut, belajar merupakan tanggung jawab bagi seorang dokter. Uniknya, cara belajarnya bukan hanya sebatas membaca atau mendengar. Dia juga menjadi salah satu tenaga pengajar mahasiswa semester akhir di perguruan tingginya dulu. “Selain membaca, saya lebih hafal kalau mengajar,” imbuhnya.
Meski demikian, dia mengaku tidak mengalami kendala yang berarti dalam membagi waktu antara bertugas di rumah sakit dengan mengajar. Hal tersebut didapatkan berkat mengikuti banyak organisasi selama masa kuliah. Tak hanya itu, dr Ria juga masih menyempatkan diri untuk berolahraga. “Waktu kuliah saya aktif, banyak organisasi. Jadi, untuk time management aman,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital