Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

UPDATE Harga Sembako Jember - Giliran Petani Cabai Gigit Jari, Akibat Harga Terjun Bebas

Radar Digital • Kamis, 31 Oktober 2024 | 22:09 WIB
SIAP PANEN: Buruh tani memetik cabai rawit di persawahan Desa Sukoreno, Kecamatan Kalisat. Kini harga cabai rawit melonjak hingga Rp 90 ribu per kilogram.
SIAP PANEN: Buruh tani memetik cabai rawit di persawahan Desa Sukoreno, Kecamatan Kalisat. Kini harga cabai rawit melonjak hingga Rp 90 ribu per kilogram.

DARSONORadar Jember - Cabai-cabai itu dibiarkan memerah bahkan mengering di pohonnya.

Hal tersebut dilakukan oleh petani di Kecamatan Arjasa, akibat harga jual di tingkat petani anjlok.

Sehingga membuat petani tekor, karena antara biaya produksi dan hasil penjualan komoditas pertanian itu tidak seimbang. 

Harga cabai di tingkat petani tak sepedas rasanya.

Diketahui harga cabai rawit merah ditingkat petani hanya Rp 15-18 ribu saja, sementara rawit hijau dijual dengan harga Rp 5-6 ribu, cabai merah besar Rp 5-6 ribu.

Sementara berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, harga rata-rata harga cabai merah keriting Rp 11 ribu, cabai merah besar Rp 12.2 ribu, serta cabai rawit merah mencapai harga Rp 30 ribu.

Sekretaris Poktan Ciptodadi, Desa Darsono, Arjasa Sayudi menyampaikan, petani cabai di Jember saat ini tengah berduka, akibat harga jualnya yang terjun bebas. Alih-alih untung, hasil penjualannya tidak cukup untuk menutupi biaya produksi yang dikeluarkan sebelumnya.

Untuk menutupi harga biaya produksi yang digunakan, menurut Sayudi, harga cabai rawit minimal Rp 15 ribu.

“Terjadi sudah kurang lebih satu bulan terakhir,” katanya.

Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab harga cabai merosot. Namun dia memperkirakan anjloknya harga cabai, akibat banyak petani yang panen dalam waktu yang bersamaan, sehingga membuat stok melimpah.

Oleh sebab itu, dengan stok yang melimpah dia berharap pemerintah memberikan dukungan kepada petani. Dengan mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. 

Dengan harga tersebut, Sayudi mengatakan, antara biaya produksi, biaya panen dan pasca panen, berbanding terbalik dengan hasil penjualan cabai di tingkat petani. Maka tidak heran, jika banyak membiarkan cabai milik mereka memerah hingga membusuk di pohonnya. “Ada juga petani yang terpaksa memanen cabai-nya secara mandiri,” imbuhnya.

Dia juga berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan saat komoditas pertanian milik petani anjlok seperti saat ini. Tidak hanya saat harga tinggi, pemerintah langsung membuat kebijakan impor atau mendatangkan barang dari luar daerah. Sementara saat harga anjlok, hampir tidak ada respon dari mereka. “Petani selama ini merasa dianak tirikan,” tegasnya.

Sementara itu, Suudi, Sekretaris Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) Kecamatan Arjasa mengatakan, melihat kondisi tersebut seharusnya ada kebijakan yang segera dikeluarkan oleh petani, untuk meringankan beban yang dihadapi oleh petani. “Selama ini ketika harga anjlok, pemerintah gak berbuat apa-apa,” bebernya.

Dia juga berharap pemerintah mendengar keluhan yang dirasakan oleh petani. Bahkan jika diperlukan dapat terjun langsung bersama petani. Sehingga mereka dapat mengetahui secara pasti kondisi yang terjadi. “Kayak sekarang ini, harga cabai anjlok. Membuat petani bukan hanya rugi, tapi habis sama modalnya,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : Radar Digital
#Sembako #Jember #petani cabai