SUMBERSARI, Radar Jember - Keberadaan orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ di Kabupaten Jember ternyata cukup banyak. Dinas Sosial Kabupaten Jember mencatat ada sekitar 3.000 lebih ODGJ di Jember. Mereka saat ini sedang ditangani oleh bagian kesehatan jiwa (keswa) di berbagai puskesmas di Jember.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jember Ahmad Helmi Lukman menyebut, gangguan kejiwaan para ODGJ itu bermacam-macam. Berupa gangguan kejiwaan ringan, penyakit bawaan, benturan psikologis antara keinginan dan kenyataan yang tidak bisa diterima. Selain itu, faktor keturunan, skizofrenia, dan beberapa lainnya.
Bahkan, ada beberapa ODGJ itu merupakan anak-anak lantaran menjadi korban kecanduan gawai dan korban bullying. "Di Jenggawah di dalam satu rumah ada dua orang (ODGJ, Red)," katanya, saat ditemui seusai rapat dengar pendapat di Ruang Banmus DPRD Jember, belum lama ini.
Helmi menyebut, jumlah penderita ODGJ terbanyak saat ini disumbang dari daerah di kawasan lereng gunung di Jember. Meski begitu, ia enggan menyebutkan detail di mana saja lokasi yang dimaksud itu.
Ia hanya memastikan persentasenya mencapai 10 persen. "Dari jumlah 3.000 itu, setidaknya 7-10 persen penyumbangnya dari wilayah itu (Jember daerah pegunungan, Red). Tidak bisa saya sebut daerah mana. Sensitivitasnya tinggi," bebernya.
Selain daerah pegunungan, lanjut dia, ada pula penderita ODGJ kiriman dari luar daerah Jember dan masuk ke wilayah perkotaan Jember. Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, namun ada beberapa kabupaten tetangga yang mengirimkan ODGJ ke Jember.
Alasannya, tambah dia, karena di Jember terdapat shelter atau penampungan ODGJ. "Ada ODGJ yang dari luar kabupaten dikirim ke sini (Jember, Red), karena di Jember tertangani. Kalau di luar Jember, di kabupaten sekitar, itu tidak ada shelter, sehingga dikirim ke Jember," imbuh Helmi.
Namun demikian, Helmi mengakui jumlah keseluruhan ODGJ itu diklaim telah turun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski ia tidak menyebutkan persis berapa penurunannya, ia meyakinkan bahkan tidak sedikit penderita ODGJ yang berakhir sembuh alias kembali menjadi orang waras.
"Penurunannya berapa persen, itu Dinkes yang tahu. Tetapi ada kok yang sampai sembuh, jualan dawet seperti di Wuluhan itu. Jadi, tergantung keluarganya, kalau keluarga welcome dan support, bisa itu sembuh," bebernya.
Ia menambahkan, Dinas Sosial melakukan rehabilitasi sosial terhadap ODGJ dengan harapan bisa menekan pihak keluarga agar lebih peduli terhadap anggota keluarganya yang menjadi ODGJ. Kemudian, mendapat dukungan dari lingkungannya, mencegah terjadinya bullying. Menurutnya, peran masyarakat dengan melaporkan ke keswa puskesmas setempat juga diperlukan, agar ODGJ ditangani dengan pemberian obat-obatan.
"Obat-obatan kejiwaan lengkap ini tidak boleh putus. Harus rutin diminumkan. Juga peran serta keluarga dan menguatkan dari sisi kejiwaan. Hanya saja, ada masyarakat yang kesadaran dan kepedulian terhadap keluarganya yang ODGJ ini rendah,” urainya.
Ketua Komisi D DPRD Jember Sunarsih Khoris mengaku prihatin dengan banyaknya jumlah ODGJ yang dipaparkan Dinas Sosial. Ia menegaskan bakal menindaklanjuti masukan dan laporan dari Dinas Sosial tersebut. "Ternyata cukup banyak ODGJ di Jember ini. Kami prihatin dengan jumlah tersebut. Dan ini harus ada tindak lanjut fasilitasi," tutupnya. (mau/c2/dwi)
Editor : Radar Digital