Tekuni Tarian Tradisional Lebih Dalam
Tasya Amelia Sachio Saraswati, Runner Up III Putri Budaya Indonesia yang Gigih Melestarikan Tradisi
SUMBERSARI, Radar Jember - Kecintaan Tasya Amelia Sachio Saraswati terhadap budaya tradisional telah dia tampilkan sejak usia dini. Di bangku sekolah, Tasya tak pernah absen tampil sebagai penari tradisional dalam acara sekolah.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember (Unej) itu juga aktif dalam UKM kesenian di fakultasnya. Pada usianya yang baru menginjak 21 tahun, ia telah menjadi ikon pelestarian budaya lokal. Tasya terpilih menjadi Runner Up III Putri Budaya Indonesia pada ajang Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia yang digelar oleh Yayasan Serasi Gantari Indonesia di Sulawesi Tengah pada awal Oktober lalu .
Di tengah derasnya arus modernisasi, Tasya berkomitmen untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya, terutama permainan tradisional. Sejauh ini, ia telah melakukan berbagai aktivitas yang bertujuan melestarikan warisan budaya bangsa.
Salah satunya adalah beberapa kali berkunjung ke sekolah-sekolah dasar untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, memperkenalkan permainan seperti itu penting untuk menjaga identitas budaya dan memperkuat hubungan antargenerasi. “Ini bukan hanya soal permainan, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan interaksi sosial. Permainan modern yang berbasis teknologi sering kali membuat kita terpisah secara fisik,” ujarnya.
Tasya juga ingin mengadakan festival budaya yang melibatkan berbagai pihak, termasuk budayawan, pegiat budaya, hingga instansi pemerintahan. Festival ini diharapkan bisa membuat permainan tradisional kembali digemari oleh generasi muda. “Harapannya bisa menggandeng berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan gerakan pelestarian budaya,” terang perempuan asal Jember itu.
Selain permainan tradisional, Tasya juga aktif mempelajari seni membatik. Baginya, budaya batik sudah cukup lestari karena mulai dikenalkan sejak usia dini hingga dewasa. Namun, Tasya tetap merasa perlu untuk terlibat dalam upaya pelestarian agar batik tetap relevan di masa depan. “Saya juga ikut membatik di Sekar Waru Batik, di Daerah Mayang,” ucapnya.
Aktivitas budaya lainnya yang tak kalah penting adalah mengajak generasi muda untuk mengunjungi museum. Salah satu tujuan Tasya adalah mengupayakan agar generasi muda antusias mempelajari peninggalan sejarah yang menjadi cermin identitas bangsa. “Saya ingin membuat konten yang mampu menarik perhatian anak muda agar mengunjungi museum,” tambahnya.
Ke depan, ia berencana untuk mendalami tarian tradisional sebagai bagian dari misinya melestarikan budaya lokal. Sebagai Putri Budaya, Tasya mengaku bangga bisa bertemu dengan putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia. Gelar itu membuat dirinya lebih termotivasi untuk terus bergerak melestarikan budaya.
Dalam melestarikan kebudayaan, menurutnya, semua pihak harus ikut andil. “Pemuda harus menjadi agen perubahan yang membawa dampak luas bagi masyarakat. Budaya adalah jati diri, dan kita harus melestarikannya sebelum terlambat,” tegasnya. (yul/c2/dwi)
Editor : Radar Digital