SUMBERSARI, Radar Jember - Pembicara ahli dalam bidangnya kembali didatangkan dalam Tegalboto Memanggil (TM) 3 hari kedua, kemarin (16/10). Mereka membahas secara tuntas program inovasi pangan fortifikasi, dalam seminar dan workshop fortifikasi di Auditorium Universitas Jember.
Pembicara dalam acara tersebut di antaranya Kepala Bakorwil V Jember Nana Fadjar Prijantoro, Head of Nutrition at WFP Indonesia Mr Joris Van Hees, Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti, serta, ahli gizi pangan Unej, Prof Dr Ir Tejasari. Dipandu langsung oleh Dr Luh Putu Suciati, dosen Unej.
Ketua LP2M Unej Prof Yuli Witono menyampaikan, fortifikasi merupakan upaya yang sengaja dilakukan untuk menambahkan mikronutrien penting seperti vitamin dan mineral ke dalam makanan. Sehingga dapat meningkatkan kualitas nutrisi dari pasokan makanan yang bermanfaat untuk kesehatan masyarakat dengan meminimalkan risiko.
Dia juga menjelaskan, visi Unej adalah menjadi universitas unggul dalam pengembangan sains, teknologi, dan seni. Berwawasan lingkungan, bisnis, dan pertanian industrial. Telah menetapkan 9 unggulan dalam Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (RIPP) 2021-2025. “Ketahanan pangan dan pertanian industrial merupakan core of the core, unggulan dari unggulan yang sudah disepakati,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Unej Dr Ir Iwan Taruna mengatakan, inovasi pangan fortifikasi merupakan salah satu upaya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi menuju Indonesia Emas 2045. Oleh sebab itu, seminar dan workshop dalam TM3 bermanfaat bagi mahasiswa dalam masa yang akan datang, karena sesuai dengan tantangan yang tengah dihadapi negara. “Salah satunya menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat,” tambahnya.
Fortifikasi pangan bisa menjadi salah satu jawaban untuk menurunkan angka stunting. Masalah sosial itu dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya kekurangan gizi. Indonesia Emas, menurutnya, akan sulit dicapai jika stunting masih banyak terjadi di Indonesia. Ketahanan pangan dan kualitas gizi masyarakat menjadi salah satu pilar utama.
Teknologi inovatif seperti fortifikasi pangan memiliki peran strategis dalam upaya mencapai Indonesia Emas. Dia juga mengatakan, beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, sehingga ketika ditambah kandungan gizi, dapat memperbaiki asupan yang didapatkan. “Fortifikasi tidak berupaya mengubah sifat dasar beras, tapi komposisi gizinya yang berubah. Sehingga, dianggap dapat diterima masyarakat,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital