Pada zaman penjajahan Jepang di kawasan Tegalboto, Jember Kota, warga membuat sebuah boneka yang menyerupai macan. Tujuannya, mengusir hewan liar yang ingin memangsa persawahan. Seiring berkembangnya zaman, boneka itu dinamai can-macanan kadduk dan menjadi kesenian tradisi asli Jember.
—
BUDAYA Kota Pandalungan tercermin benar dalam kesenian can-macanan kadduk. Kesenian yang sudah ada 40 tahun lebih lamanya itu mengadaptasi gerakan macan yang disertai iringan gamelan jawa, barongan osing, serta ragam budaya daerah lain.
Gerakan lincah yang disertai alunan gamelan membuat pertunjukan macan yang ditampilkan minimal dua orang tersebut menghibur penonton. Can-macanan kadduk berasal dari bahasa Madura.
Can-macanan berarti macan atau harimau gadungan. Sementara itu, kadduk adalah karung goni. Karung yang disulam dengan tali rafia sehingga menyerupai macan besar yang mengerikan. Bentuk kepala macan terbuat dari kayu yang dihiasi cat minyak dan menggambarkan mimik wajah garang. Satu ekor macan beratnya bisa mencapai 0,5 kuintal.
Konsep pertunjukannya pun ditata. Biasanya, pergelaran itu baru mulai pukul 19.00 dan bisa selesai hingga tengah malam, bergantung permintaan penonton.
Pertunjukan diawali dengan salawatan agar nuansanya tetap islami, baru dilanjutkan pertunjukkan dua orang yang mengenakan pakaian burung garuda. Melambangkan garuda sebagai pemersatu bangsa.
”Setelah itu, penampilan pencak silat satu orang. Karena silat dan can-macanan kadduk tidak bisa dipisahkan,” tutur David Iswanto, pembina sanggar can-macanan kadduk Bintang Timur.
Berikutnya, penampilan empat bocah ganong dan tiga orang dewasa menari-nari. Artinya, para anak kecil itu mencoba ikut melestarikan jati diri budaya yang dimiliki serta sebagai hiburan lawakan khas Jemberan.
”Dilanjut penampilan pencak silat ganda dan tari leak dari Bali serta tari gandrung. Inilah nilai Pandalungannya, ragam budaya menjadi satu dalam sebuah pementasan,” imbuh David.
Barulah atraksi utama tampil. Macan keluar kali pertama berwarna kuning yang disebut kulik dan toltol. Memiliki warna yang bertotol hitam di bagian tubuhnya yang kuning, macan itu menggambarkan watak halus dan lucu. Sementara itu, macan yang berwatak antagonis bernama kumbang. Penonton pun kerap dibuat heboh dengan penampilan macan kumbang yang energik dan ganas. Ditambah, alunan musik gamelan jawa dan seruling. Pertunjukan itu ditampilkan dengan minimal dua dan maksimal lima macan.
Salah satu pesan yang terkandung pada tampilan can-macanan kadduk itu, anak-anak yang suka menangis dan nakal kepada temannya bakal dimangsa si macan kumbang. Pesan itulah yang membuat ibu-ibu mengajak anaknya untuk menonton pertunjukan tersebut sekaligus memberikan pelajaran.
Dimuat di Jawa Pos Halaman Jawa Timur 4 12 Januari 2020