Kisah Moch Andri Amin, Loper Koran sejak 1990-an
Peran loper kini tak mudah ditemui. Tetapi ada beberapa dari mereka yang tetap eksis mengantarkan koran Jawa Pos Radar Jember langsung ke pelanggan ataupun menjual eceran. Salah satunya Moch. Andri Amin. Dirinya mulai keliling berjualan koran, bahkan sejak harga koran masih Rp 250. Seperti apa kisahnya?
Salah satunya Moch Andri Amin. Pria paruh baya yang akrab disapa Amin atau Min ini tetap eksis menyajikan Jawa Pos Radar Jember secara eceran ataupun diantar kepada pembaca yang sudah berlangganan.
Pria yang tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, ini mengaku sudah sejak tahun 1990-an menjadi loper. “Mulai kerja jadi loper sejak harga Jawa Pos dulu Rp 250. Dulu belum ada Jawa Pos Radar Jember, hanya Jawa Pos saja,” ungkapnya.
Dulu, kata dia, para pembaca di Jember selalu menantikan halaman Jawa Timur yang ada di Jawa Pos untuk mencari berita daerah lokal. Sebab, berita Jember dulunya hanya terbit di halaman Jawa Timur Jawa Pos saja. Akhirnya, setelah tahun 1999 muncullah Jawa Pos Radar Jember hingga saat ini. Berita lokal pun tersaji di Jawa Pos Radar Jember dengan tetap berada satu lembaran bersama Jawa Pos.
“Dulu kalau setor ke agen Rp 200. Hasil keuntungannya cuma Rp 50. Dulu sampai sekarang Jawa Pos cukup menguasai, tetap dicari-cari orang. Sekarang juga begitu, kalau berita lokal yang dicari ya Jawa Pos Radar Jember,” beber Amin.
Ayah empat anak ini pun sudah memiliki rute tersendiri untuk menjajakan korannya dan mengirim koran untuk pelanggan. “Dulu saya ambil korannya di agen Harto yang ada di daerah Patrang. Lanjut jalan kaki ke RS Soebandi, terus ke arah RS DKT, kodim, pengadilan negeri, pengadilan agama, kampus, dan kejaksaan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sebelum bekerja menjadi loper, dirinya adalah seorang kuli bangunan. Awalnya, adalah sang adik yang lebih dulu berjualan koran di kawasan Universitas Jember. Tetapi, kini Amin sendiri yang pindah haluan menjadi loper, sedangkan adiknya justru berhenti.
Empat tahun lalu, Amin mendapat cobaan. Dirinya menderita sakit yang tidak ada diagnosis medisnya. Punggungnya tiba-tiba terasa nyeri dan sakit. Biasanya dipijat saja sudah enakan, Amin mengaku tak sembuh-sembuh selama satu tahun.
“Badan saya sampai kurus. Ada seperti bekas atau bengkak gitu di dada saya ini. Tapi alhamdulillah, akhirnya bisa sembuh pakai pengobatan alternatif,” ujarnya, sembari menunjukkan bekas luka di dadanya.
Dirinya menyebut, saat sakit itu para pelanggannya banyak yang pindah loper. Sebab, memang dirinya tak bisa mengantarkan koran ke pembaca sementara waktu. Sekitar tahun 2018 lalu, Amin akhirnya kembali berkeliling. Tubuhnya pun mulai membaik. Tak lagi kurus, mulai berisi kembali. “Alhamdulilah bisa keliling lagi jual koran ke orang-orang,” imbuhnya.
Selama berjualan koran, Amin beruntung dapat berkenalan dengan banyak orang. “Hubungannya tambah luas. Tapi saya tidak mau bicara hasil jualan koran ini. Yang penting cukup untuk menghidupi istri dan sekolahkan anak,” jelas dia.
Bahkan, dirinya bercanda mampu membangun rumah, kredit sepeda motor yang saat ini sudah lunas, serta menyekolahkan ketiga anaknya dari pekerjaannya sebagai loper. Kini per harinya Amin mengambil sekitar 25 hingga 30 koran dari agen untuk dijual eceran maupun mengantarnya ke pelanggan kantor-kantor. “Untuk Jawa Pos Radar Jember, saya ambil per harinya sekitar 30 koran itulah. Terkadang laku semua, kalau sisa pun hanya lima biji,” ucapnya.
Berbagai rintangan yang dihadapi loper pun tetap dia terjang. Hujan pun harus tetap diterobos. “Hujan pun tetap kirim. Prinsip saya, kalau orangnya basah tidak masalah, yang penting korannya jangan basah. Saya berharap loper-loper ini ada perhatian dari Jawa Pos. Apalagi di masa pandemi dan seterusnya,” beber Amin.
Di sisi lain, dukanya loper mengenai ketetapan waktu kirim ke pelanggan tetap. Kalau telat alias kesiangan pun, tak jarang mereka mendapat omelan. Ketidakpuasan pembaca karena korannya tak datang di pagi hari. “Kalau kirimnya kesiangan, pasti ada alasan yang kuat. Harap maklum. Tetapi tetap saya dan rekan-rekan beri penjelasan, kenapa telat. Mungkin ada kendala di jalan atau hal lainnya,” pungkas Amin.