Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Soal Maraknya Fenomena Kasus LGBT di Jember, Jadi Potensi Besar Rusak Mental, Begini Pendepat Dosen Psikologi FKM Unej

Radar Digital • Sabtu, 28 September 2024 | 17:48 WIB

 

ilustrasi
ilustrasi

Radar Jember – Fenomena LGBT sudah menjadi perbincangan di tengah masyarakat. LGBT sudah merebak ke sejumlah wilayah negeri. Tak terkecuali di Jember. Di Jember, kasus-kasus yang terekspos beberapa waktu lalu, salah satunya pria yang menyodomi rekannya sendiri ketika mabuk miras. Tak sekali, tapi hingga empat kali.

Itu baru yang terekspos. Diyakini sejumlah pihak, kasus yang tersembunyi bisa saja cukup banyak. Sebab, di jagat sosial media pun mulai blak-blakan. Mereka seakan bergerilya di beberapa platform.

Fenomena LGBT punya potensi untuk merusak mental si pelaku. Jawa Pos Radar Jember mewawancarai Erdi Istiaji, dosen Psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), mengenai pendapatnya dari sisi psikologi para penyuka sesama jenis.

Sepengetahuan Anda, apa salah satu ciri-ciri penyuka jenis dalam perilaku berkomunikasi pada umumnya?

“Ketika bertemu psikolog, para pengidap penyuka sesama jenis ini akan memalingkan dirinya. Dan cenderung tidak mau berkomunikasi dengan psikolog.”

Apakah selama ini Anda pernah menangani pasien yang gay?

“Kalau menangani pasien yang gay, sejauh ini hampir belum pernah, ya. Karena, ketika saya bertemu dengan mereka (para gay, Red) mereka malah cenderung takut dan pergi.”

Menurut Anda secara psikolog, sebenarnya mereka ini apa sadar suka dengan sesama jenis?

“Dalam hati kecil mereka, seseorang yang memiliki ketergangguan mental seperti gay pada umumnya akan sadar bahwa yang dilakukannya adalah salah. Namun, untuk memuaskan nafsunya, mereka akan tetap melakukan perilaku menyimpang tersebut. Apabila para gay bertemu dengan orang yang sadar akan hal perilaku menyimpang tersebut, perasaan mereka (gay, Red) akan merasa terancam atau terganggu karena tidak sefrekuensi dengan mereka.”

Lantas, bagaimana menurut Anda secara psikologi menangani mereka?

“Untuk menangani mereka yang memiliki perilaku gay, kita bisa mulai melakukan pendekatan secara spiritual, yaitu dengan memperingatkan bahwa dalam hukum agama tidak diperbolehkan melakukan hal seperti itu.”

Selain secara spiritual, apa ada cara lainnya?

“Dan yang paling penting adalah dengan menyadarkan mereka secara logika bahwa kodrat mereka adalah seorang laki-laki.”

Lalu menurut Anda, kenapa mereka bisa mulai suka sesama jenis?

“Teori Psikoanalisis Sigmund Freud mengatakan, prinsip manusia adalah mengejar kenikmatan. Kebanyakan dari mereka ingin merasakan sensasi fantasi berhubungan yang berbeda. Ingin mencoba kenikmatan dengan sesama jenis. Selain itu, mereka juga menerapkan gaya hidup bebas, tidak terkontrol. Di sisi lain, bila mereka diingatkan, mereka bakal menyuarakan hal itu masuk dalam hak pribadi masing-masing.” (c2/bud)

Editor : Radar Digital
#Jember #UNEJ #psikolog #lgbt