Selain yang Mangkal, Open BO Banyak via Medsos
Prostitusi Gay Kian Mengancam
GELIAT prostitusi sesama pria di Jember sepertinya cukup eksis. Hasrat seksual dan motif finansial membuat bisnis lendir ini tak pernah surut. Bahkan, apabila tak dicegah, potensinya bisa semakin marak.
MAULANA, Radar Jember
GAY menjadi sebutan bagi pria yang menyukai seksual dengan sesama pria. Bahkan, di Jember sudah ada kasus pelecehan seksual yang dilakukan pria kepada pria. Apabila kasus-kasus seperti ini tak dicegah dan dibiarkan menjamur di sekitar kita, maka kasus lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) akan semakin terang-terangan di Jember.
Kecenderungan seksual yang berbeda dari kebanyakan orang ini telah berubah. Dulu, hanya sebatas hasrat seksual yang harus dikubur rapat-rapat. Namun, kini sudah lama merambah untuk disalurkan, sekaligus menjadi bisnis untuk memburu cuan/finansial. Namun, bagi mereka yang sudah ketagihan, membayar pun siap.
Penyedia layanan maupun customer-nya juga beragam, dari lintas generasi. Mulai dari gen Z, milenial, sampai gen X. Ada pelajar, karyawan, sampai tokoh publik. Bahkan pria yang sudah berkeluarga juga ada yang menjadi customer gay.
Dalam beberapa kasus, selain mereka yang mangkal di kawasan sekitar Stasiun Jember, di kawasan sekitar Roxy, atau tempat lain, juga tak sedikit yang menawarkan jualannya melalui aplikasi media sosial seperti Facebook, Michat, dan Whatapp. Istilah kekinian open booking out, alias open BO. Modusnya beragam, ada yang menawarkan kenalan atau berkedok pijat plus-plus dengan tarif yang disepakati. Bahkan, ada yang gratis dan ada yang mau membayar.
Apabila nego-nego itu sudah deal, proses komunikasi bisa lanjut ke Whatapp atau tetap melalui aplikasi yang ada. Selanjutnya, servis dilakukan di tempat-tempat yang telah disepakati. Kadang di homestay, indekos, sampai di hotel berbintang.
Penelusuran Jawa Pos Radar Jember untuk melihat jejak prostitusi gay ini menggunakan aplikasi, hasilnya menunjukkan demikian. Melalui Michat misalnya. Melalui profilnya, mereka sudah memajang foto-foto wajah mereka. Mereka yang terang-terangan bukan saja perempuan yang jual diri. Namun, para pria yang memburu pria. Kadang, ada juga yang hanya memajang foto salah satu bagian tubuhnya. Demi meyakinkan konsumen, biasanya disertai beranda yang isinya riwayat transaksi, tarif yang sudah disepakati dalam bentuk transfer, berada di sebuah ruangan ber-AC, di dalam hotel, dan janji manis servis.
Bahkan, beberapa profil itu juga menyertakan identitas singkat yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar waria. Misalnya dengan menyertakan deskripsi shemale di kolom deskripsi profilnya. Di Michat, perempuan yang jual diri sangat banyak. Termasuk penyedia layanan sesama jenis, juga sangat mudah ditemukan.
Khusus di kawasan kota Jember, cukup membuka aplikasi, lalu mengecek lokasi sekitar. Selanjutnya, sudah muncul lokasi terdekat yang menawarkan open BO. Baik perempuan maupun gay ini. Tak heran jika aplikasi hijau Michat cukup menjadi favorit banyak orang, pria, perempuan, maupun kalangan gay. Sayangnya, bisnis lendir melalui Michat ini tiada penindakan dari pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah. Apakah bisnis lendir ini berikut aplikasinya sudah legal?
Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, di medsos Facebook bahkan lebih terang-terangan lagi. Di platform itu, sedikitnya ada 8–9 grup gay Jember dengan berbagai nama dan kiasan yang menunjukkan perkumpulan gay di Jember. Itu belum grup yang ada di kecamatan-kecamatan. Hampir semua grup gay itu tidak ada yang diprivat, sehingga siapa pun bisa berkunjung ke grup. Tanpa harus menjadi anggota grup terlebih dahulu. Grup yang terbuka lebar tanpa sekat ini seolah open BO gay ingin dianggap lazim oleh masyarakat.
Beberapa percakapan di beranda grup Facebook gay Jember menunjukkan para kaum gay yang menawarkan agar dirinya disodomi oleh sesama. Ironisnya, ada yang masih bocil SMP sudah terang-terangan open BO. "Ada yang mau sama anak SMP ga? Aku umur 13 soalnya," tulis sebuah akun berinisial CR, saat open BO di salah satu grup bapak-bapak gay, yang diunggah pada 11 September (diakses Minggu, 22/9/2024).
Tak berselang lama, unggahan itu sudah mendapatkan komentar dari salah satu akun lain yang menanyakan kontak Whatsapp-nya. Percakapan lain juga terlihat saat sebuah akun berinisial GR, yang open BO di salah satu grup Facebook Gay Jember. "Khusus yang beristri, yuk suami-suami, selingkuh yuk. Inbox," tulis akun GR, diunggah pada Sabtu (21/9) kemarin.
Tak berselang lama, beberapa akun lain mengomentari. "Cek inbox," tulis PB, menjawab tawaran open BO dari GR.
Penelusuran juga menunjukkan, sebagian pengguna jasa open BO gay menggunakan akun anonim. Namun, tak sedikit pula yang menggunakan akun pribadi. Begitu hasrat seksual itu muncul, seolah tanpa kenal daratan, mereka terang-terangan mencari open BO, dengan menggunakan bahasa khas dunia perselengkangan, seperti ditulis akun inisial RW. "Lagi pengen ngemut," tawarnya.
Fenomena gay di Jember seperti bukan lagi hal yang tabu dibahas dan diperjualbelikan di media sosial. Demi melampiaskan hasrat seksual dan kepentingan finansial, mereka sudah terang-terangan beroperasi di dunia nyata dan maya serta mengeksekusinya, sesuai waktu dan tempat yang telah disepakati. (c2/nur)
Editor : Radar Digital