RADAR JEMBER – Kasus begal di Jember akhir-akhir cukup menjadi perhatian. Bahkan, dalam beberapa hari, sudah ada dua kejadian. Pertama di Kencong dan Kawasan kota. Korbannya pun seorang emak-emak bersama sang buah hati mengendarai sepeda motor pada malam dini hari.
Elis, 42, bersama putri kecilnya menjadi korban begal di jalan Jatisari, Desa Wonorejo, Kencong. Bahkan, Elis mengalami luka parah dilukai dengan senjata tajam oleh si pelaku begal. Namun, Elis berhasil mengamankan motornya.
Aksi heroiknya, dengan cepat mengunci ganda motornya, membuat si begal tak bisa membawa lari targetnya.
Maraknya aksi begal di Jember itu mendapat komentar dari salah satu dosen Hukum di Jember. Fiska Maulidian Nugroho dosen di Fakultas Hukum (FH) Universitas Jember (Unej), hukum pidana dengan matakuliah kriminologi.
Fiska mengatakan, kasus begal tidak dapat dilepaskan dari faktor ekonomi dan sosial yang menghimpit pelaku. Dia menambahkan teori kriminologi yang dikenalkan oleh Schafer sejak 1969 sudah menunjukkan bahwa faktor ekonomi, khususnya kesengsaraan dan keputusasaan, menjadi pengaruh utama dalam tindakan kriminal.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan para filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles hingga para pemikir modern seperti Karl Marx dan Friedrich Engels. Mereka memandang bahwa ketidakadilan sosial ekonomi yang dihasilkan oleh kapitalisme sering kali menjadi penyebab utama munculnya kejahatan.
Fiska juga menyoroti bagaimana perkembangan ekonomi kapitalistik di kota, dengan banyaknya pusat perbelanjaan mewah dan tempat hiburan, menciptakan ketimpangan yang signifikan.
Di satu sisi, masyarakat kelas bawah tertekan oleh tingginya biaya kebutuhan hidup, sementara lapangan kerja di sektor industri sulit diakses oleh mereka yang kurang terdidik. Hal tersebut, menurut Fiska, mengikis harapan masyarakat kelas pekerja dan mendorong mereka melakukan tindakan kriminal sebagai jalan pintas.
Dalam konteks tindakan represif dan preventif, Fiska mengapresiasi langkah cepat dari pihak aparat penegak hukum yang melakukan operasi di lokasi-lokasi rawan begal. Ia juga menyoroti pentingnya menambah infrastruktur keamanan, seperti pemasangan CCTV di sepanjang jalan-jalan strategis.
“Saya mengapresiasi Pemerintah Daerah mengevalusi kinerja, kemudian Aparat Penegak Hukum (APH) yang bertindak cepat dan terukur, serta masyarakat yang mulai sering menabuhkan genderang medsos untuk mendesak kinerja dua lembaga tersebut,” paparnya.
Berdasarkan perspektif sosial dan psikologis, Fiska juga menggarisbawahi dampak serius dari kejahatan ini.
“Saya membagi dampak itu jadi dua. Yakni dampak tidak langsung pada masyarakat yang menyebabkan rasa takut dan ketidakpercayaan,” bebernya.
Serta dampak langsung pada korban yang menderita secara fisik, psikis, dan finansial. “Pentingnya pemerintah daerah hadir untuk mendukung korban yang mengalami trauma, baik secara psikologis maupun finansial,” jelasnya.
Menurutnya, solusi yang lebih komprehensif harus mencakup peningkatan kondisi sosial-ekonomi mayarakat, penguatan infrastuktur keamanan, serta pendekatan yang lebih manusiawi terhadap korban kejahatan.
Editor : Radar Digital