Radar Jember - Menjelajahi Jawa Timur, terutama Kabupaten Jember, belum lengkap rasanya jika belum mengunjungi peninggalan sejarah yang tersembunyi di pedesaannya.
Di balik keindahan alam dan sejarah tembakau yang terkenal, Jember juga menyimpan jejak masa lalu yang lebih tua, yaitu peninggalan megalitikum.
Salah satu warisan yang paling menarik perhatian adalah batu kenong, batu peninggalan purbakala yang memiliki bentuk dan fungsi unik dari zaman megalitikum.
Batu kenong, yang ditemukan di beberapa situs megalitikum di Jember, merupakan batu besar berbentuk silinder dengan tonjolan di atasnya, menyerupai instrumen musik tradisional kenong dalam gamelan.
Batu ini banyak tersebar di berbagai tempat, salah satunya di Situs Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Jember.
Desa ini terletak tidak jauh dari jalan provinsi yang menghubungkan Jember dengan Bondowoso, dan Situs Duplang bisa dicapai dengan perjalanan singkat melalui jalan pedesaan yang penuh pesona.
Situs Duplang adalah salah satu contoh museum alam terbuka di Jember. Di sini, pengunjung bisa melihat batu kenong beserta batu-batu megalitikum lainnya yang masih terjaga dengan baik.
Situs ini tidak hanya menarik bagi para wisatawan, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran sejarah bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin mengenal lebih jauh tentang kehidupan purba.
Abdul Rahim, juru pelihara situs ini, sering mendampingi kunjungan pelajar dan menjelaskan sejarah di balik setiap batu yang ada di sana.
Batu kenong tidak hanya berfungsi sebagai benda hiasan atau alat musik pada zamannya. Batu ini juga dipercaya digunakan dalam upacara pemujaan dan penguburan.
Terdapat dua jenis batu kenong yang ditemukan di Situs Duplang, yaitu batu dengan satu tonjolan dan batu dengan dua tonjolan.
Batu kenong dengan satu tonjolan sering dikaitkan dengan tanda tempat penguburan, sedangkan batu kenong dengan dua tonjolan mungkin digunakan sebagai alas bangunan rumah pada zaman dahulu.
Selain batu kenong, Situs Duplang juga memiliki koleksi megalitikum lainnya seperti dolmen, batu berbentuk meja yang digunakan untuk meletakkan sesaji dalam upacara pemujaan, dan menhir, batu tegak yang berfungsi sebagai tugu pemujaan nenek moyang.
Situs ini menjadi pengingat bahwa masa lalu Jember menyimpan kisah-kisah yang berakar jauh sebelum peradaban modern datang.
Tidak hanya di Situs Duplang, batu kenong juga ditemukan di beberapa tempat lain di Jember, seperti di Desa Sucopangepok, Desa Panduman, dan Desa Arjasa.
Batu kenong ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-4 Masehi dan menjadi saksi bisu dari kehidupan masyarakat purba yang pernah menghuni kawasan ini.
Meskipun peninggalan megalitikum seperti batu kenong ini menjadi bagian dari sejarah yang penting, tantangan terbesar saat ini adalah melestarikan situs-situs tersebut.
Minimnya fasilitas penunjang seperti listrik dan toilet sering kali menjadi kendala bagi wisatawan yang ingin berkunjung.
Namun, dengan perhatian yang lebih besar dari pemerintah dan masyarakat, Situs Duplang dan situs-situs lainnya di Jember bisa terus terjaga dan berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih populer di masa depan.
Bagi para pencinta sejarah, batu kenong dan situs megalitikum di Jember adalah saksi nyata dari perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara.
Di sini, kita bisa merenung sejenak, menyadari betapa kayanya warisan budaya yang dimiliki Indonesia, dan memahami betapa pentingnya menjaga dan merawat warisan ini untuk generasi yang akan datang.
Editor : Radar Digital