Radar Jember - Pada zaman dahulu, Nusa Barung merupakan pulau berpenghuni sebelum akhirnya Belanda menyerang.
Pulau ini merupakan penyokong perekonomian Kerajaan Blambangan, terkenal sebagai penghasil sarang burung walet yang membuat perekonomian kerajaan semakin berkembang.
Seiring dengan perkembangan perekonomian, perkembangan politik di pulau ini juga meningkat, membuat Belanda merasa terancam.
Pada tahun 1777 pecahlah perang di pulau cantik ini, yang menewaskan sebanyak 27 orang.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian melarang orang untuk berkunjung ke pulau ini dan mengubahnya menjadi cagar alam. Itulah awal mula pulau ini tak berpenghuni.
Laut di sekitar pulau ini juga banyak menyimpan terumbu karang dan berbagai macam ikan yang berlindung dan berenang di dalamnya.
Namun jika ingin berenang melihat-lihat keindahan terumbu karang, wisatawan harus hati-hati agar tidak berenang terlalu jauh ke tengah.
Pulau berukuran 6.100 hektar ini dikelilingi oleh air laut dengan warna biru jernih dan dihiasi oleh hamparan pasir putih yang indah.
Ditetapkan sebagai Cagar Alam pada tahun 1920, pulau ini dipenuhi oleh beragam flora dan fauna.
Satwa-satwa yang dapat ditemui di pulau ini diantaranya adalah biawak air, ular piton, kera abu-abu, dan jika beruntung, bisa bertemu dengan penyu hijau dan penyu sisik yang bertelur di pulau Nusa Barong.
Nama Nusa Barung, yang awalnya berarti "Pulau Kejahatan" pada masa kolonial Belanda, sekarang dikenal sebagai destinasi eksotis yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sejarah.
Akses ke Nusa Barung dapat ditempuh dari Surabaya menuju Jember, lalu ke Puger, dan dilanjutkan dengan perahu menuju pulau.
Sejak 2021, pemerintah Kabupaten Jember mencanangkan pulau ini sebagai objek wisata untuk menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian daerah.
Kondisi geografisnya tandus dan bergunung-gunung, namun memiliki kekayaan batu kapur dan keindahan karang setinggi 325 meter.
Pulau ini menjadi saksi sejarah pemberontakan pada masa Kerajaan Blambangan dan kemudian menjadi pusat perekonomian pada masa VOC.
Nusa Barung dulunya merupakan pusat produksi sarang burung walet dan lilin, serta menjadi tempat transit dan perdagangan.
Pulau Nusa Barung di Jember, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang dan kaya akan potensi alam. Kawasan ini pertama kali ditetapkan sebagai Cagar Alam melalui SK Gubernur Hindia Belanda pada 1920 dan kemudian diubah menjadi Suaka Margasatwa pada 2013.
Secara geografis, pulau ini terletak pada koordinat 113°18’11” BT dan 8°26’16” LS, berada dalam wilayah administrasi Dusun Puger Wetan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.
Nusa Barung memiliki beragam ekosistem seperti hutan pantai, mangrove, dan hutan tropis dataran rendah dengan berbagai jenis flora dan fauna.
Fauna yang menonjol antara lain penyu hijau, penyu sisik, biawak, ular piton, rusa, kera abu-abu, lutung, dan berbagai jenis burung.
Pulau Nusa Barong juga tidak luput dari cerita-cerita mitos dan mistis yang berkembang di masyarakat.
Sesuai dengan namanya, Nusa (pulau) Barung (ular), warga sekitar mengatakan bahwa pulau ini dihuni oleh seekor ular besar dan makhluk tak kasat mata lainnya.
Bahkan beredar kabar bahwa Nusa Barung menjadi tempat bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu gaib.
Namun, wisatawan tak perlu takut, selama tidak mengganggu, mereka juga tidak akan diganggu.
Bagi yang tertarik untuk berwisata ke pulau ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan disiapkan.
Seperti halnya membawa kamera dan handphone dengan baterai penuh untuk mengabadikan momen berlibur di pulau yang indah ini.
Pastikan untuk tidak membuang sampah sembarangan agar keasrian dan keindahan pulau Nusa Barong tetap terjaga.
Selain itu, jangan lupa membawa banyak bekal makanan karena pulau ini tidak berpenghuni dan tidak ada kios atau toko di sana.
Editor : Radar Digital