JUBUNG, Radar Jember – Penyakit bulai jagung menjadi salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman jagung. Penyakit ini disebabkan jamur Peronosclerospora maydis atau Peronosclerospora philippinensis. Sebaran penyakit ini sangat meluas. Bahkan risiko kerugian akibat penyakit bulai bisa mencapai 100 persen. Oleh karena itu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember menyarankan untuk mencabut tanaman jagung bila terkena penyakit bulai.
Kabid Ketahanan Pangan DTPHP Jember Luhur Prayogo menyebut, penyakit bulai bukan termasuk penyakit baru pada tanaman jagung. Mulanya penyakit tersebut muncul 30 hari setelah masa tanam. Bila terserang biasanya tanaman akan sulit tumbuh. “Proses berkembangnya penyakit bulai dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembapan,” jelasnya.
Luhur menjelaskan, pengendalian penyakit bulai umumnya dilakukan dengan cara memilih benih. “Kalau memilih benih carilah benih yang paling unggul, seperti benih jagung hibrida,” tuturnya.
Dirinya menyarankan, bila daun jagung sudah mulai memutih, maka harus cepat dilakukan pencabutan. Sebab, apabila telat, bulai akan menyebar. “Cepat cabut dan buang ke yang tempat jauh dari tanaman jagung lainnya,” terangnya.
Luhur menambahkan, tanaman yang diserang penyakit bulai daun rata-rata tidak bisa dipertahankan. Sebab, tongkol jagung yang dihasilkan kualitasnya jelek, sehingga tidak menghasilkan bulir jagung.
Menurut petani Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Suryadi, penyakit jagung yang sulit diatasi adalah bulai daun. Sebab, sulit diberantas dengan menggunakan pestisida. Bahkan ketika dilakukan pemupukan pun penyakit ini semakin parah. "Penyebarannya sangat cepat dan sulit dikendalikan," ujarnya.
Dirinya menyebut, tanaman jagung miliknya yang telah terkena penyakit bulai, daunnya memutih. Dia menjelaskan, sejak bulan lalu, dirinya menanam jagung karena dirasa tanaman pangan ini kuat pada cuaca panas. Namun, kenyataannya sebelum panen sudah terkena penyakit bulai. (abm/c2/dwi)
Editor : Radar Digital