TEGAL BESAR, Radar Jember - Potensi musim kemarau pada tahun ini diprediksi akan lebih pendek jika dibandingkan dengan 2023 lalu. Hal tersebut sesuai dengan prediksi yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada September mendatang, Jember juga diprediksi terdampak fenomena La Nina.
Petugas Meteorologi dan Geofisika (PMG) Pos Meteorologi Penerbangan Notohadinegoro Jember Iwan Dwi Cahyono menyampaikan, kemarau pada tahun ini diprediksi hanya akan terjadi selama empat hingga lima bulan saja.
Lebih singkat dari kemarau pada tahun sebelumnya.
Bahkan, saat ini pun hujan telah turun, walau tidak rata di semua daerah.
Namun demikian, prediksi tersebut bisa saja berubah sesuai dengan perkembangan yang ada.
“Fenomena La Nina diprediksi akan datang pada September mendatang,” katanya.
Walau musim kemarau diproyeksikan lebih pendek, menurutnya, potensi kekeringan masih bisa saja terjadi.
Hal itu bisa mengganggu produksi pertanian. Selain itu, bencana kebakaran juga perlu diperhatikan dengan baik.
“Bisa berdampak pada pertanian, perekonomian, dan sosial,” imbuhnya.
Iwan juga menjelaskan, fenomena La Nina merupakan kejadian anomali iklim global yang ditandai dengan keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur, yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.
Kondisi tersebut bisa berulang dalam beberapa tahun sekali.
Setiap kejadian bisa bertahan sekitar beberapa bulan hingga dua tahun.
Fenomena La Nina berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.
Umumnya berkisar 20 hingga 40 persen lebih tinggi dibandingkan curah hujan normalnya.
Dalam keadaan tersebut, maka potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang menjadi lebih besar. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital