Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kiprah Rumah Pintar di Silo Jember, Wakafkan Tanah demi Pendidikan

Radar Digital • Rabu, 5 Juni 2024 | 00:10 WIB
TERUS BERKARYA: Suasana kegiatan di Rumah Pintar Kecamatan Silo. Tempat ini menjadi salah satu pilihan yang dapat membantu ATS agar tetap mengenyam pendidikan. (YULIO/RJ)
TERUS BERKARYA: Suasana kegiatan di Rumah Pintar Kecamatan Silo. Tempat ini menjadi salah satu pilihan yang dapat membantu ATS agar tetap mengenyam pendidikan. (YULIO/RJ)

TINGGINYA angka anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi problem di Jember. Tak terkecuali di Kecamatan Silo. Di tempat ini ada sekelompok pemuda di daerah yang mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dengan nama Rumah Pintar.

Founder Rumah Pintar, Samsul Hadi Saputra, mengaku prihatin dengan keberadaan ATS. Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan anak putus sekolah. Dua di antaranya adalah faktor ekonomi dan pernikahan dini.

Pada awalnya Rumah Pintar didirikan sebagai perpustakaan serta tempat bimbingan belajar gratis pada tahun 2014. Setelah dua tahun berjalan, antusiasme masyarakat meningkat hingga ruang kegiatan belajar mengajar sering penuh.

Pada 2016, ada bantuan biaya untuk membangun ruang kelas yang lebih luas, di atas tanah pribadinya. Tanah itu telah ia wakafkan. “Dua tahun berselang, baru punya kelas sendiri,” paparnya.

Karena peminatnya terus meningkat, Rumah Pintar melakukan ekspansi. Tak hanya menjadi taman baca, tapi juga menjadi PKBM. Sehingga dapat menyediakan pendidikan penyetaraan atau lebih dikenal dengan istilah kejar paket. “Kami ingin memberikan solusi kepada anak putus sekolah,” jelasnya.

Menurutnya, kini sudah ada taman belajar mingguan, pendidikan kesetaraan, dan ada ketentuan pembiayaan yang diatur langsung oleh Dinas Pendidikan. “Bagi usia produktif yang sesuai ditanggung pemerintah. Sedangkan yang non produktif harus menggunakan biaya tersendiri,” ucapnya.

Pada awal buka, muridnya hanya dari warga sekitar. Namun, sejak 2016 lalu muridnya sudah lintas kecamatan, bahkan lintas kabupaten. Usia bervariasi. “Saat ini aja ada dua murid dari Jember selatan, dari Kecamatan Wuluhan dan Kecamatan Ambulu,” jelasnya.

Dikatakan, ada dua problem yang membuat mereka menjadi ATS. Masalah ekonomi dan pernikahan dini. “Mayoritas usia SMA, tapi ada juga yang SMP,” jelasnya.

Sementara itu, sistem pembelajaran dilakukan rutin tiap akhir pekan. Namun, ujian semester maupun kelulusan sudah ada ketentuan dari Dinas Pendidikan. “Modul sudah disediakan online, sehingga bisa melakukan kelas jarak jauh. Jadi, pembelajaran tak hanya Sabtu dan Minggu,” jelasnya. Dia berharap Rumah Pintar bisa terus memberi manfaat bagi banyak orang. (yul/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Anak Tidak Sekolah ATS