SUMBEREJO, Radar Jember - Bupati Jember Hendy Siswanto terkagum-kagum saat menghadiri Festival Watu Ulo Pegon (Waton) 2024 di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Minggu (21/4) pagi.
Sebab, kendaraan pegon atau cikar yang eksis di wilayah Ambulu itu menjadi kearifan lokal yang sangat langka. Apalagi, hingga kini warga Desa Sumberejo masih menggunakannya untuk bekerja.
Menurutnya, tradisi Waton memiliki potensi untuk diakui sebagai bagian penting dari kesenian dan budaya baru oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI.
Dengan demikian, wajar jika Waton diajukan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) agar dapat diakui secara resmi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.
"Sudah kami ajukan sebagai budaya warisan tak benda yang harus diakui secara resmi," jelasnya.
Menurutnya, kendaraan tradisional pegon itu sudah sangat jarang dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sehingga lambat laun berkurang hingga menghilang. Namun, berbeda dengan di Kecamatan Ambulu.
Pegon yang ditarik dengan dua ekor sapi itu masih banyak berlalu lalang di jalanan sebagai alat bantu bekerja.
Untuk itu, sudah sepantasnya Festival Waton diakui secara resmi oleh negara.
Lebih lanjut, Pemkab Jember akan memperjuangkan status Festival Waton agar segera diakui sebagai warisan budaya bukan benda oleh negara.
Sehingga apa yang sudah menjadi budaya tidak hilang tertelan zaman.
"Mudah-mudahan bisa segera disetujui," harapnya.
Perlu diketahui, awal munculnya Festival Waton itu dimulai dari acara reuni yang dilakukan oleh masyarakat setelah Lebaran di Pantai Watu Ulo, kisaran tahun 1980.
Karena pada masa itu belum banyak kendaraan bermotor, warga menggunakan pegon sebagai transportasi menuju Watu Ulo.
Lambat laun masyarakat mulai menghias pegon agar tampil berbeda.
Dari situ, kebiasaan tersebut terjaga hingga menjadi tradisi saat ini. (qal/c2/dwi)
Editor : Radar Digital