Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Choiria Firdatul Ulfah MK TB di Jember, Terus Berjuang Dampingi Penderita TBC

Radar Digital • Minggu, 14 April 2024 | 15:55 WIB
TERUS MENGABDI: Choiria Firdatul Ulfah, MK TB di Jember ini mengabdikan diri untuk mendampingi penderita penyakit TBC.(YULIO FA/RADAR JEMBER)
TERUS MENGABDI: Choiria Firdatul Ulfah, MK TB di Jember ini mengabdikan diri untuk mendampingi penderita penyakit TBC.(YULIO FA/RADAR JEMBER)

BAGI sebagian orang, penderita tuberkulosis (TBC) banyak dijauhi. Ini karena khawatir tertular. Penyakit yang satu ini memang masuk dalam kategori penyakit menular.

Ditularkan melalui bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Namun, Choiria Firdatul Ulfah justru terbiasa mendampingi penderita tersebut.

Alumnus Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember ini merupakan manajerial kasus (MK) TB resisten obat (RO) di salah satu rumah sakit di Jember.

Setiap hari dia harus memastikan penderita TBC meminum obat yang sudah disiapkan.

Mereka memang harus rutin mengonsumsi obat dalam waktu yang sama setiap hari.

Ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember, perempuan yang lahir di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, ini mengaku sempat kaget dan khawatir tertular TBC.

Sebab, sering kali ikut memeriksa pasien. Oleh sebab itu, dia menyampaikan benar-benar menjaga protokol kesehatan.

“Saya juga harus menjaga imun agar tidak tertular,” tuturnya.

Dia juga menyebut sempat kaget dengan perubahan yang dialami pasien TBC saat pertama kali mengonsumsi obat tersebut. Mulai dari gemuk menjadi kurus, hingga kulit menghitam.

Meski memiliki banyak efek samping, namun pasien harus konsisten mengonsumsi obat.

“Takut sih. Gimana kalau kena nanti, gitu,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Cho ini juga mengatakan, jumlah kasus TBC di Jember cukup tinggi. Tak heran jika ada pendampingan khusus.

Setiap pasien biasanya akan didampingi oleh satu orang yang disebut supporter pasien.

“Setiap satu bulan, minimal empat kali kunjungan rumah,” katanya.

Salah satu tugas Cho adalah memastikan pendampingan tersebut berjalan dengan baik. Hingga pasien dinyatakan benar-benar sembuh.

Sebab, tak jarang dijumpai pasien yang merasa tubuhnya lebih baik memilih untuk berhenti mengonsumsi obat.

Padahal sebenarnya hal tersebut bisa kembali memperkuat virus yang ada dalam tubuh.

Proses penyembuhan pasien TBC RO membutuhkan waktu yang cukup lama, agar dapat disembuhkan. Bahkan bisa mencapai waktu dua tahun.

Setiap hari mereka harus mengonsumsi belasan obat. Waktunya pun harus sama.

jika dikonsumsi pada pukul 7 pagi, maka setiap hari penderitanya harus melakukan hal yang sama pada waktu tersebut.

Selama menjalankan tugasnya, Cho juga mengatakan sempat dimarahi oleh pasien.

Namun, dia memilih untuk tetap sabar, karena paham bahwa hal tersebut merupakan efek samping dari obat yang dikonsumsi.

“Ada pasien yang malas kontrol juga,” tuturnya.

Jika terdapat pasien yang tidak melakukan kontrol selama kurang lebih dua bulan, biasanya Cho akan mendatangi rumah yang bersangkutan secara langsung.

Hal tersebut dianggap menjadi tantangan, karena harus membujuknya hingga mau untuk kembali berobat dan kontrol di rumah sakit. (ham/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #TBC