RADARJEMBER.ID - Beberapa hari lalu viral akan papan retribusi perawatan jalan di area Stasiun Garahan, Jember.
Ternyata, papan retribusi untuk setiap pengunjung yang hendak makan Pecel Garahan itu viral di sosial media.
Namun, kini, spanduk banner itu tak lagi ada. Warga sekitar menduga, ada oknum yang ingin memanfaatkan momen hari raya idul fitri kepada pengunjung pecel garahan yang hendak mampir.
Lalu, apa sejarahnya Pecel Garahan yang sempat viral itu?.
Jawa Pos Radar Jember sudah menyajikan liputan akan kuliner legendaris tersebut beberapa tahun lalu.
Warung Pecel Garahan terletak tak jauh dari Stasiun Garahan. Yang berada di Desa Garahan, Kecamatan Silo.
Warung kecil itu terbuat dari kayu dan menggunakan atap dari asbes. Serta dilengkapi dengan enam kursi panjang yang terbuat dari papan kayu.
Pemilik warung itu Tini alias Bu Ida, yang setia di warung nasi pecel pincuk miliknya di depan stasiun.
Tini menjadi salah satu yang berjualan nasi pecel pincuk tepat di depan Stasiun Garahan. Warga Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Kecamatan Silo, ini sudah enam tahun berjualan di warung yang hanya berukuran 2 x 2,5 meter tersebut.
Meski kini tak ada kereta api yang berhenti di stasiun, hanya sekadar lewat, dirinya tetap setia menjalankan bisnis nasi pecelnya.
Ya, sejak April 2014 lalu, seluruh perjalanan kereta api tidak berhenti di Stasiun Garahan.
Hal itulah yang membuat satu per satu pedagang nasi pecel pincuk kukut alias berhenti berjualan. Hanya tersisa warung milik Tini di sana.
Sedangkan sebagian besar pedagang lainnya memilih membuka warung di pinggir jalan besar, yang banyak dilewati pengendara dari Jember menuju Banyuwangi atau sebaliknya.
Padahal, dulu jika kereta berhenti di Stasiun Garahan, puluhan pedagang nasi pecel ikut kecipratan rezeki.
Bahkan, lebih dari 30 penjual.
Mereka rela berlarian bahkan sebelum kereta benar-benar berhenti, demi menjajakan nasi pecel pincuk khas Garahan.
Satu porsi nasi pecel pincuk dia banderol seharga Rp 5 ribu.
Setiap hari, Tini bisa menghabiskan 2,5 kg beras untuk dagangan nasi pecelnya.
Biasanya di akhir pekan dia bisa menyiapkan lima hingga enam kilogram beras.
Di warung tersebut, tak hanya nasi pecel yang dia jajakan, tetapi juga ada rokok, minuman botol, dan kopi.
Jika dirunut lebih jauh, kiprah Tini dalam berjualan nasi pecel rupanya jauh lebih lama, tidak hanya enam tahun.
Sejak berumur 14 tahun, dia sudah ikut kedua orang tuanya, almarhumah Misinem dan almarhum Rusman, berjualan nasi pecel di stasiun.
“Memang sudah puluhan tahun ibu berjualan nasi pecel di stasiun. Dan kebetulan ayah juga pernah kerja di kereta bagian tukang rem,” kenangnya.
Editor : Radar Digital