Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Di Balik Tanaman Kurma Milik Sugito di Desa Sabrang, Resepnya Disayang seperti Anak Sendiri

Radar Digital • Selasa, 26 Maret 2024 | 21:34 WIB
BISA DIPANEN: Pohon kurma yang tumbuh subur di sawah milik Sugito, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, sudah bisa dinikmati dan dijual.
BISA DIPANEN: Pohon kurma yang tumbuh subur di sawah milik Sugito, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, sudah bisa dinikmati dan dijual.

Kurma menjadi tanaman khas daerah Timur Tengah. Namun, bukan berarti tak dapat tumbuh di tempat lain. Seperti yang dibudidayakan petani Jember ini. Hanya butuh 3 tahun, dia sudah bisa memanennya.

MAULANA, Ambulu, Radar Jember

SIAPA yang tak mengenal kurma? Buah dengan sejuta khasiat ini sudah menjadi primadona masyarakat. Lebih-lebih saat Ramadan seperti sekarang, sering diincar para pemburu takjil. Bahkan bisa diburu besar-besaran saat akan memasuki Lebaran.

Nah, di Jember ada pohon kurma yang dibudidayakan seorang petani di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu. Dia bernama Sugito. Dia memiliki pohon kurma yang berdiri di areal persawahan seluas sekitar satu hektare.

Begitu melihat langsung pohon-pohon kurma miliknya itu, tampak buah kurma yang berwarna kuning keemasan menjuntai ke bawah. Seolah mempersilakan siapa pun untuk memetiknya.

Pohon kurma yang dibudidayakan Sugito itu telah ditanam sejak tiga tahun lalu. Selama masa tanam hingga bisa menghasilkan buah kurma, butuh sekitar 2 tahunan. Sehingga tahun ini merupakan tahun kedua masa tanam pohon kurmanya. "Ada juga pohonnya yang kecentet, atau lambat kembang, jadi belum bisa berbuah," katanya.

Pria berusia 70 tahun itu mengisahkan, biji dan bibitnya dia beli dari Thailand. Sebelum menanam kurma, dia memastikan kondisi tanah sesuai dengan yang dibutuhkan. Tidak ada cara khusus saat penanaman.

Namun, hal yang harus dipastikan yakni pengairan harus tetap ada, dengan takaran yang cukup.

Untuk perawatan hanya perlu membersihkan rumput-rumput di sekitar tanaman.

"Jangan terlalu banyak air, bisa mati. Terus menjaga dari rumput-rumput liarnya itu," katanya.

Di sawahnya, Sugito memulai percobaan awal dengan menanam 300 biji, kemudian ditambah 200 bibit. Seiring berjalannya waktu, kini ada sekitar 1.000 pohon kurma di kebunnya.

Namun, Sugito masih harus membedakan jenis tanaman jantan dan betina. Sebab, tanaman jantan tidak mungkin berbuah serta proses penyerbukan masih dilakukan secara manual. Dengan mengawinkan bunga jantan ke bunga betina.

"Tahun kemarin, pohon kurmanya sudah mulai berbuah. Tapi, tahun ini yang mulai berbuah lebih banyak. Ada belasan pohon yang sudah berbuah," katanya.

Sugito yang merupakan pensiunan guru sehari-harinya merawat kurma itu ditemani sang adik, Mahrozi. Kurma mulai ditanam saat pandemi Covid-19 melanda. Setelah tiga tahun menanam kurma, kini dia mulai menuai hasil.

Yakni buah kurma segar petik dari pohon, selain manis dan tekstur buah yang renyah, masih mengandung air dan sedikit rasa sepat. Sangat berbeda dengan yang diperjualbelikan di toko-toko setelah diolah.

Saat ditanya mengenai resep jitu merawat kurma, Sugito mengaku tak ada resep khusus. Namun, dia mengaku menyayangi pohon kurma itu seperti menyayangi buah hatinya sendiri.

"Yang penting itu seperti memelihara anak, harus kita sayangi. Jadi, walaupun ini tumbuhan kurma, kalau kita sayangi, dia akan sayang juga kepada kita," kata Sugito.

Hingga kini, warga terus berdatangan untuk melihat buah kurma langsung dari pohonnya. Untuk sampai ke kebun, harus menyeberangi sungai selebar 15 meter, dengan menaiki getek tradisional.

Sugito berharap kebunnya bisa lebih berkembang, dapat diikuti oleh petani-petani lain di desanya dan dapat dijadikan jujukan wisatawan. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #kurma