BERBICARA benda peninggalan zaman dahulu, Jember juga memiliki jenis barang tersebut. Salah salah satunya adalah candi. Sebagian orang mungkin masih heran bahkan tidak percaya, ada candi di Kota Tembakau ini.
Namanya adalah Candi Deres, namun jangan bayangkan bangunan tersebut megah.
Karena kondisinya sudah memprihatinkan, runtuhan batu bata dan struktur candi terlihat berserakan di tempat tersebut.
Candi Deres berada di Dusun Krajan, Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas. Jika melakukan perjalanan dari pusat kota, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit.
Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, akses menuju tempat tersebut terbilang mudah, karena lokasinya tidak jauh dari jalan utama.
Meski kondisi candi yang berada di areal persawahan tersebut sudah memprihatinkan. Namun siapa sangka, bangunan tersebut cukup banyak dikagumi oleh sejarawan dan arkeolog. Keunikan yang dimiliki memang cukup menjadi perhatian pemerhati benda peninggalan masa lampau.
“Bagi saya yang asyik di Jember itu Candi Deres,” ucap Ismail Lutfi, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) di acara sarasehan implementasi undang-undang dan peraturan tentang cagar budaya di Museum Huruf pada awal Februari lalu.
Bagi Ismail, Candi Deres layak disebut sebagai mutiara yang masih mentah dan belum dipoles. Karena memiliki nilai eksotis yang jarang ditemukan candi pada umumnya di tempat lain.
Sebab, terdapat perpaduan batu bata atau gerabah dan batuan andesit. Tidak bangunan peninggalan yang menggabungkan bahan tersebut.
“Pada umumnya hanya memakai satu bahan, batu bata atau hanya batu andesit saja,” terangnya.
Meski layak disebut sebagai mutiara terpendam. Namun kondisinya memang cukup memprihatinkan, karena struktur utama candinya bisa rusak.
Kerusakan itu bukan karena ulah tangan manusia, melainkan faktor alam.
Diketahui, pada bagian tengah candi terdapat pohon yang tinggi menjulang.
Semakin besar pohon itu, maka pertumbuhan akar juga kian meningkat. Pertumbuhan akar itulah yang membuat struktur Candi Deres itu rawan rusak. “Semakin dibiarkan, semakin pula rusaknya,” paparnya.
Oleh sebab itu, dia menilai perlu segera dilakukan langkah penyelamatan. Seperti ekskavasi dan pemugaran misalnya.
Jika hal itu dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan tempat tersebut mampu menarik minat pengunjung.
“Ada nilai ekonomi, wisata, pemandangan, sejarah dan lainnya. Hasil fotografi dari Belanda, Candi Deres itu begitu anggun,” pungkasnya (ham/dwi)
Editor : Radar Digital