AMBULU, Radar Jember - Masjid Nurul Amin Ngadina Tumina yang terletak di Dusun Sumberan, Desa/Kecamatan Ambulu, memiliki arsitektur khas pendapa adat Jawa.
Dengan keunikan bangunan tersebut, masjid ini dikunjungi banyak warga.
Arsitektur masjid diinisiasi oleh tokoh agama setempat, Junaidi.
Berangkat dari inspirasi yang didapatkan ketika menjelajahi kota Jawa tua, mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Barat, ide itu pun dipakai untuk mendirikan masjid dengan gaya bangunan pendapa tempo dulu.
Mulai dari teras, tiang, dinding, hingga atapnya menggunakan bahan dasar kayu jati.
Ketua takmir Masjid Nurul Amin Ngadina Tumina, Paiman, menjelaskan, masjid tersebut mulai dibangun sejak akhir 2018 dan selesai menjelang bulan Ramadan 2020.
"Kurang lebih satu tahun pembangunan, dan bisa digunakan saat malam pertama puasa pada tahun 2020," jelasnya.
Paiman menyebut masjid tersebut tak perlu menunggu waktu lama untuk digunakan salat Jumat.
Sebab, dalam seminggu jumlah jemaah sudah memenuhi syarat untuk melaksanakan salat Jumat.
Lebih lanjut, masjid yang dipenuhi dengan ornamen kayu tersebut tak hanya digunakan untuk kegiatan ibadah salat lima waktu. Namun, juga sering menjadi sarana kegiatan salawatan, semaan Alquran, dan mengaji kitab kuning.
"Karena di sini mayoritas warga nahdliyin atau Nahdlatul Ulama (NU), dan latar belakang pekerjaannya buruh, jadi masjid ini menjadi wadah bagi mereka untuk kegiatan keagamaan, silaturahmi, dan kemasyarakatan," lanjutnya.
Paiman mengatakan, sepenuhnya arsitektur bangunan tersebut dirancang oleh Junaidi. Di Jember, salah satu yang menjadi acuannya yaitu Masjid Al Ghofilin Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.
"Masjid ini bisa dikatakan penyempurna rancangan bangunan Masjid Al Ghofilin, karena di sini struktur bangunannya semuanya menggunakan bahan dasar kayu jati. Mulai dari lantai hingga atap masjid," jelasnya.
Nah, wartawan Jawa Pos Radar Jember pun memastikan ornamen di masjid ini seluruhnya memakai kayu.
Sejumlah orang juga banyak mengabadikannya dengan memfoto dan memvideo, baik warga Jember maupun luar Jember.
“Semua ornamen full kayu, senggol dong,” kata M. Adhi Surya, wartawan yang sempat berkunjung ke masjid tersebut. (mg2/c2/nur)
Editor : Radar Digital