JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terjadinya gelombang air laut yang cukup tinggi selama dua hari terjadi di pantai Payangan dan pantai watu Ulo, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember bukan hanya merusak warung milik warga.
Gelombang pasang itu disertai angin sangat kencang pada Rabu (13/3) hingga Kamis (14/3) siang juga menimpa petani yang sawahnya ditanami padi.
Tanaman padi Seluas 20 hekter terancam gagal panen akibat air laut menggenangi sawahnya.
Sebelum terjadi gelombang tinggi selama dua hari, sawah warga yang rata ditanami padi itu masih aman.
Namun, sejak terjadi gelombang air laut tidak bisa kembali lagi.
Hal ini setelah sungai tertutupi pasir laut hingga air menggenangi sawah.
Karena air laut menggenangi sawahnya.
Ngadi, Kepala Dusun Watu Ulo mengatakan, bila sawah warga tergenangi air laut akibat cuaca ekstrem.
Sehingga dengan solusi itu air harus dikembalikan ke laut lagi.
Salah satu caranya dilakukan kerja bakti untuk membuat saluran atau menyudet sungai yang tertutupi pasir.
Dengan cara itu air laut bisa kembali kelaut lagi.
Setelah dilakukan koordinasi dengan petani yang sawahnya digenangi air laut, petani sepakat kalau sungai yang tertutup dengan pasir itu disudet.
Sungai sepanjang 80 meter sudah berubah fungsi jadi dangkal itu akhirnya disudet.
Dengan bersama-sama, petani membuat aliran sungai dengan menggunakan cangkul.
Sementara Mujiono, salah satu petani mengaku berterima kasih kepada petani lain yang kompak membuat saluran akibat sungainya tertutum pasir.
Air laut masuk ke sawah hingga menggenangi beberapa hari akibat sungai dangkal dan tertutup pasir setelah terjadi gelombang serta ombak yang cukup tinggi.
"Mudah-mudahan tidak terjadi lagi, karena tanaman pagi milik petani ada yang sudah berumur 2 bulan hingga 2,5 bulan," harapnya. (jum/bud)
Editor : Radar Digital