KEPATIHAN, Radar Jember - Sejak 4 hingga 10 Maret mendatang, Jember memasuki fase akhir musim hujan.
Berakhirnya musim hujan dan akan memasuki musim kemarau perlu diwaspadai. Terutama ancaman bencana angin kencang ataupun puting beliung.
Petugas Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda Pos Meteorologi Penerbangan Notohadinegoro Jember Iwan Dwi Cahyono menjelaskan, saat ini wilayah Jatim, termasuk Jember, berada di fase akhir musim hujan.
Suhu muka laut Jember berada di perairan yang hangat.
“Saat ini di Jember juga terdapat pola pertemuan angin dan belokan angin,” jelasnya.
Tak hanya itu, fenomena tersebut didukung dengan kondisi atmosfer yang labil dan lembap. Mulai lapisan bawah hingga atas yang menyebabkan penumpukan masa udara basah.
Sehingga terbentuk awan-awan konvektif yang menjadi sistem peringatan dini cuaca buruk jika diamati menggunakan citra dan radar satelit.
“Awan konvektif sering terlihat putih cerah di sisi yang menghadap matahari dan abu-abu gelap di bagian bawah,” jelasnya.
Sementara itu, mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember kembali melakukan perempesan pohon di sejumlah titik yang dianggap rawan, Senin (4/3).
Yakni di Jalan Letjen Panjaitan dan wilayah Baratan, depan kantor PGRI Jember.
“Kegiatan gerakan perempesan pohon (gerpas) merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan tahun lalu,” jelas Kepala BPBD Jember Widodo Julianto.
Menurutnya, banyaknya pohon yang menjulang tinggi dan lebat di permukiman sisi jalan cukup membahayakan.
Terlebih Jember sudah memasuki fase peralihan musim yang sangat berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi. Untuk itu, perempesan akan terus dilakukan secara bertahap dalam beberapa hari ke depan.
Lebih lanjut, Widodo mengimbau kepada seluruh warga Jember agar selalu waspada saat hujan datang. Sebab, pada awal dan akhir musim hujan umumnya akan makin tinggi potensi munculnya angin kencang dan puting beliung.
Sebab, di beberapa lokasi suhu udara tidak sama, yaitu terdapat perbedaan suhu dingin dan panas. Sehingga, angin akan bergerak lebih cepat.
“Puncak anomali cuaca diperkirakan masih akan berlangsung pada bulan Maret hingga April,” pungkasnya. (qal/c2/dwi)
Editor : Radar Digital