KEBONDALEM, Radar Jember – Sepanjang tahun 2023 telah terjadi 5.348 perceraian di Jember. Sementara, jumlah pernikahan 18.635.
Artinya, banyak keluarga yang tidak bisa mempertahankan rumah tangganya.
“Pernikahan 18 ribuan, sedangkan perceraian 5 ribuan. Inilah sudah tinggi angka perceraiannya. Sudah hampir kiamat ini,” terang Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Jember Didik Kurniawan.
Oleh karena itu, kata dia, dalam mempertahankan keutuhan keluarga itu harus bisa menghadapi dan mengelola masalah.
Menurutnya, persoalan keluarga seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah dampak dari keluarga yang tidak memiliki ketahanan.
“Seperti ketidaksiapan mengemban amanah dalam berkeluarga," ujarnya.
Dia juga menyampaikan bahwa ada tiga aspek ketahanan keluarga yang harus diperhatikan. Yaitu kemandirian ekonomi, kematangan usia, dan tingginya tingkat pendidikan.
Maka dari itu, Kemenag Jember menginginkan pola program yang lebih masif untuk perbaikan ketahanan keluarga di Jember.
“Ada kursus pranikah hingga bimbingan pranikah untuk remaja sekolah,” terangnya.
Didik menambahkan, pernikahan di bawah umur juga jadi penyebab tingginya perceraian di Jember.
“Sekarang yang harus dicari tahu, apa penyebab pernikahan di bawah umur. Ternyata adalah persoalan budaya, ekonomi, dan pendidikan," tegasnya. (mg4/c2/dwi)
Editor : Radar Digital