MENURUT Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada Y. Setiyo Hadi, prasasti Batu Gong pertama kali ditemukan di puncak bukit tepat di samping lokasi Batu Gong saat ini.
Batu ini ditemukan oleh W.F. Stutterheim dan H.R. Heekeren, berkebangsaan Belanda, pada Desember 1933.
Pada saat itu, mereka sedang melakukan peninjauan di ujung timur Jawa untuk mencari temuan-temuan benda purbakala.
Laporan mengenai temuan tersebut, kata dia, diabadikan dalam dokumentasi foto yang diambil oleh Claire Holt, pendamping Stutterheim dan Heekeren.
Selain itu, dituliskan dalam laporan hasil kunjungan dalam sebuah buku dengan judul Oudheidkundige Aanteekeningen XLVI: De oudste inscriptie van Oost-Java. Pada masa itu, Indonesia masih dalam kuasa Belanda.
Diketahui bahwa ciri-ciri yang tampak dari prasasti tersebut menandakan bahwa manusia yang membentuknya. Hal itu, kata pria yang akrab disapa Yopi itu, membuktikan ada kebudayaan masyarakat pada saat itu yang telah mengenal aksara.
"Bentuk yang besar atau colossus menunjukkan sebagai tradisi megalitikum yang bercampur klasik," paparnya.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jember, batu yang disebut-sebut sebagai prasasti Batu Gong itu sangat besar.
Tingginya melebihi setengah badan orang dewasa. Khas peninggalan zaman megalitikum atau batu besar.
Yopi mengungkapkan bahwa batu tersebut tergolong batu andesit.
Saat dilakukan pengukuran oleh tim peneliti Stutterheim, tercatat tingginya 120 sentimeter dengan panjang 170 sentimeter.
Permukaannya halus dan memiliki kerucut yang menonjol ke permukaan, kira-kira 20 sentimeter, dengan bidang dasar berbentuk lingkaran berdiameter antara 60 sampai 65 sentimeter.
Tetapi, kerucutnya tidak berbentuk lingkaran.
Era pembuatan prasasti tersebut, terang Yopi, antara abad 7 sampai abad 8 Masehi.
Menurutnya, kesimpulan itu ditarik karena Stutterheim yang menduga ada hubungannya dengan berbagai aktivitas manusia yang hidup sebelum tahun 760 Masehi di Jawa Timur.
Kemiripan tersebut, lanjutnya, cukup kuat dengan prasasti Canggal dari tahun 732 Masehi dan Toek Mas dari tahun 650 Masehi.
"Usianya jauh sebelum adanya Kerajaan Majapahit, bahkan sebelum adanya Kerajaan Tumapel atau Singasari," tutur pria yang juga merupakan pemandu wisata sejarah dan budaya Jember itu. (sil/c2)
Editor : Radar Digital