Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bisa Jadi Limbah atau Produk Bermanfaat Lainnya, Warga Jember Bisa Manfaatkan Kain Perca

Radar Digital • Senin, 5 Februari 2024 | 13:55 WIB
INDUSTRI RUMAHAN: Warga Karangrejo, Kecamatan Sumbersari menjahit baju. Aktivitas menjahit seperti itu menyisakan potongan kain atau disebut kain perca.
INDUSTRI RUMAHAN: Warga Karangrejo, Kecamatan Sumbersari menjahit baju. Aktivitas menjahit seperti itu menyisakan potongan kain atau disebut kain perca.

LIMBAH industri tekstil ternyata memberikan dampak terbesar kedua terhadap pencemaran lingkungan.

Walau di Jember tidak ada pabrik kain atau tekstil, tapi potongan kain hingga baju bekas pun selalu ada ditemukan, baik di TPA ataupun sungai.

Kasi Pengelolaan Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember, Nurul Hidayah mengatakan, limbah tekstil terdapat tiga hal yang membedakan.

Pertama, limban cair yang dihasilkan industri tekstil. Limbah tersebut jelas sangat berbahaya. Sebab, terdiri atas berbagai macam campuran bahan kimia.

Kedua, limbah padat, yaitu dihasilkan dari sisa produksi pakaian maupun produk pelengkap pakaian.

Contohnya seperti sisa benang, kain perca, termasuk pakaian bekas, itu termasuk limbah. Terakhir adalah limbah gas, yang dihasilkan dari pemrosesan pabrik tekstil.

Menurutnya, Jember memang tidak ada pabrik tekstil atau kain. Bukan berarti Jember bebas dari limbah tekstil.

“Jika diamati, limbah dari industri tekstil itu sangat banyak. Kalau di Jember penyumbang terbesarnya yakni penjahit pakaian. Selain itu, sampah pakaian juga banyak ditemukan di aliran sungai. Padahal itu sangat berbahaya bagi lingkungan hidup,” ucapnya.

Bahan dasar produksi pakaian saat ini lebih banyak terbuat dari serat sintetis yang baru bisa terurai di tanah selama 20 sampai 200 tahun.

Sebab, banyak pakaian terbuat dari serat sintetis, maka juga ada pelepasan mikroplastik saat dibuang ke tanah ataupun sungai.

Agar mengurangi limbah padat dari tekstil ini, tambah dia, maka perlu sistem 3R.

Reduce, reuse, dan recycle,” terangnya.

Reduce dengan cara mengurangi kebiasaan membeli baju.

Artinya, membeli baju sesuai dengan kebutuhan. Reuse, menggunakan pakaian bekas.

Artinya bukan membeli pakaian bekas atau thrift.

Sebab, pakaian thrift dari luar negeri itu sama saja Indonesia menampung limbah dari negara lain.

Alangkah baiknya memakai pakaian bekas dari keluarga sendiri. Terakhir, recycle, yaitu mendaur ulang kain atau pakaian bekas.

Seperti dimaksimalkan untuk keset, lap, ataupun menjadi pakaian layak pakai kembali. (qal/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#Jember #kain perca