KEMUNING LOR, Radar Jember - Stigma masyarakat tentang warung remang-remang relatif negatif. Hal tersebut karena anggapan warung remang-remang sebagai tempat bermesraan. Salah satu warung remang-remang yang dikenal di Jember adalah di kawasan Rembangan, Desa Kemuning Lor. Namun, lambat laut persepsi itu hilang.
Mulai lunturnya warung remang-remang itu karena banyak warung yang penampilannya diubah. Dulu, warung beratap welit sampai menjuntai ke bawah. Tapi kini, atap seperti itu mulai minim. Pantauan Jawa Pos Radar Jember, hanya ada satu warung yang atapnya menutupi pandangan. Agar semakin samar, juga disediakan tirai dari bambu.
Pemilik warung di Rembangan, Nur Wati, mengatakan, memang dulu warung Rembangan itu memiliki stigma negatif. Yaitu sebagai warung remang-remang. Lambat laut mulai berubah, warung yang menyajikan pemandangan.
Pada dasarnya, kata dia, membuat warung remang-remang untuk orang bermesraan hasilnya juga tidak berkah. “Saya berniat berjualan dengan cara halal,” paparnya.
Meski warung miliknya dulu dikesankan warung remang-remang, tapi dia ingin menawarkan hal lebih kepada pengujung. Yaitu view, suasana asri, hingga makanan dan minuman yang enak. "Bisa melihat Jember dari ketinggian, pagi sampai malam pemandangannya bagus," lanjutnya.
Terpisah, pengunjung asal Bangsalsari, Rohman, mengaku mengunjungi warung sekitar Rembangan tersebut untuk menikmati suasana yang rindang dan pemandangan. "Saya sembari menunggu matahari terbenam, lihat di media sosial view-nya sangat bagus," jelasnya.
Selain menawarkan pemandangan yang indah, dia juga menyebut berbagai pilihan minumannya murni dari hasil alam sekitar. "Seperti kopi dan es degan," pungkasnya. (mg2/c2/dwi)
Editor : Radar Digital