KALISAT, Radar Jember – Pasar baju bekas yang ada setiap hari Rabu di jalan menuju Stasiun Kalisat selalu digandrungi anak muda sampai orang tua. Bahkan, pelajar SD pun tampak berburu baju thrift di tempat itu.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, Rabu (24/1), terlihat empat orang anak yang masih duduk di bangku kelas IV SD, sedang asyik memilih baju bekas itu. Mereka tidak bersama dengan orang tuanya, tetapi berangkat ramai-ramai dengan temannya.
Andika, salah satu anak, mengaku sudah beberapa kali belanja sendiri baju bekas. Dari rumah mereka rata-rata membawa uang sekitar Rp 10–20 ribu. “Hari ini sekolah libur, jadi kami janjian buat ke Pasar Kalisat beli baju bekas,” ujarnya sambil mencoba salah satu baju.
Sementara itu, Holifah, salah satu pedagang baju bekas, mengaku, kini pelanggan baju bekas tidak hanya orang dewasa saja. Tetapi sudah mulai merambah kalangan anak sekolah. “Alhamdulillah, kalau peminat baju bekas sudah bisa di semua umur,” ungkapnya.
Menurut Kasi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember Nurul Hidayah, bagi kalangan konsumen, adanya budaya thrifting menguntungkan. Sebab, bisa mendapatkan pakaian bermerek dengan harga murah. Namun, di balik itu yang perlu dipahami adalah adanya dampak lingkungan. “Thrifting sama halnya dengan mendatangkan sampah dari luar negeri,” ucapnya.
Sebab, baju thrifting adalah baju bekas yang di negara asalnya tidak dipakai atau menjadi sampah. “Mayoritas pakaian bekas yang dijual itu kiriman dari luar negeri, bukan dari dalam negeri. Sehingga bukan menyelesaikan masalah sampah pakaian yang ada di Indonesia. Tapi, justru membawa sampah pakaian dari luar negeri ke Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Cak Oyong, sapaan akrab Nurul Hidayah, dalam satu paket kiriman pakaian bekas dari luar negeri tidak semua kondisinya baik. Bahkan diperkirakan isi pakaian yang layak jual hanya 60 persen. Sedangkan sisanya 40 persen adalah pakaian tidak layak jual. “Iya, yang kondisi pakaian tidak layak jual itu hanya punya dua pilihan. Dibakar atau dibuang ke sungai. Dan itu yang semakin menambah volume sampah pakaian, terutama di sungai-sungai. Sangat sering kami temui sampah pakaian di sungai-sungai yang ada di Jember,” ungkapnya. (cad/c2/dwi)
Editor : Radar Digital