Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Duh, Musim Hujan Tetap Kurang Air, Petani di Jember Harus Keluar Biaya untuk Mengairi Sawah

Radar Digital • Rabu, 24 Januari 2024 | 21:51 WIB
HARUS SIAP DIESEL: Para petani yang sawahnya ada di Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, harus mengairi sawahnya dengan mengambil air dari sumur yang sudah disiapkan.(JUMAI/RADAR JEMBER)
HARUS SIAP DIESEL: Para petani yang sawahnya ada di Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, harus mengairi sawahnya dengan mengambil air dari sumur yang sudah disiapkan.(JUMAI/RADAR JEMBER)

PUGER WETAN, Radar Jember – Siapa saja pasti tahu saat ini sedang musim hujan. Akan tetapi, di sebagian tempat, tetap ada petani yang kesulitan mendapatkan air.

Ini terjadi di areal persawahan Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Seperti diketahui, beberapa hari terakhir ini di wilayah selatan seperti Ambulu, Jenggawah, Tempurejo, Wuluhan, dan Puger sudah turun hujan cukup deras.

Akan tetapi, air hujan yang langsung meresap itu tak berpengaruh pada sawah yang irigasinya jauh dari aliran sungai.

Oleh karena itu, sebagian petani tetap kesulitan air.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, bibit padi yang sudah waktunya ditanam sempat tertunda. Ini karena sebagian petani dibuat pusing tujuh keliling karena tidak bisa tanam bibit lantaran kurang air.

Bahkan, bibit padinya ada yang sampai usia 50 hari.

“Kalau itu sudah terlambat untuk ditanam,” kata Paidi, warga Dusun Selokdoro, Desa Lojejer.

Sementara itu, Yahya, petani yang sawahnya di Desa Puger Wetan, harus menyiapkan mesin diesel penyedot air. Ini untuk mengairi sawahnya.

Demikian juga saat membajak sawah, juga perlu air, sehingga banyak bibit yang telat tanam.

Untuk mengairi sawah dengan diesel itu juga mengeluarkan biaya lebih besar. Bahkan, dalam sehari butuh BBM jenis pertalite sekitar 10 liter.

“Ya, kalau diesel yang menggunakan BBM solar mungkin tidak terlalu banyak. Tetapi yang menggunakan BBM pertalite lebih banyak pengeluarannya,” kata Yahya.

Pada saat itu, terlihat ada sejumlah mesin penyedot untuk mengairi sawahnya yang diambil dari sumur.

Terpisah, Suhartono, 58, petani asal Dusun Curahtepas, Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, mengaku harus menunda tanam padinya. Hal ini karena sawah kering dan tidak ada persediaan seperti diesel penyedot air.

“Umur bibit hampir 60 harian, rencana mau dicabut,” jelasnya. Para petani ini berharap agar saluran irigasi bisa mengaliri semua sawah milik petani. (jum/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Petani #Pertanian