Bagaimana jadinya jika palang pintu perlintasan kereta api tidak dijaga. Tentu akan lebih banyak insiden yang tidak diinginkan. Untuk memastikan palang pintu tertutup, keberadaan petugas yang berjaga di pos dibutuhkan. Bagaimana perjuangannya?
KERETA api itu meluncur dengan cepat di wilayah Kecamatan Patrang. Dari kejauhan tampak seorang pria yang melambaikan tangan kepada masinis. Dia adalah Afan Farid Prayogo, penjaga pos palang pintu perlintasan setempat. Hampir setiap hari di waktu yang ditentukan pria ini menjaga perlintasan. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan.
Aktivitas tersebut tentu membutuhkan konsentrasi dan ketepatan waktu. Jika tidak, maka pengendara roda dua maupun roda empat akan tetap melaju, ketika kereta api hendak melintas. Hal tersebut tentu membahayakan bagi para pengendara maupun masyarakat setempat. Oleh sebab itu, petugas dituntut untuk sigap menutup dan membuka palang pintu.
Pria yang akrab disapa Farid itu mengatakan, tantangan terbesar bagi penjaga palang pintu perlintasan adalah melawan kantuk. Khususnya ketika bertugas pada malam hingga pagi hari. Bagaimana tidak, dia hanya sendirian dalam sebuah ruangan kecil yang berukuran tidak lebih dari lima meter itu.
Untuk mengatasi itu, Farid mengaku sengaja melakukan berbagai aktivitas yang membuatnya terus bergerak. Misalnya membersihkan lingkungan sekitar pos, membersihkan kantornya, mengecek palang pintu, dan lainnya. “Kalau cuma berdiri gitu aja, tetep masih bisa tidur,” katanya sembari tertawa.
Ada empat penjaga yang ditempatkan di pos perlintasan yang berdekatan dengan RSUD dr Soebandi itu. Mereka secara bergantian bertugas sesuai waktu yang ditentukan. Yakni sif pagi mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 14.00, sif selanjutnya dari pukul 14.00 hingga 22.00. Kemudian sif malam mulai pukul 22.00 hingga pukul 06.00 pagi.
Selain memastikan palang pintu tertutup dengan baik, mereka harus bergerak cepat ketika palang tidak terbuka secara otomatis. Termasuk ketika ada kendaraan yang mogok di atas rel, maka petugas harus berlari secepat mungkin dengan membawa bendera merah. Sebagai tanda agar masinis kereta segera berhenti. “Harus berlari secepat dan sejauh mungkin. Minimal 500 meter dari tempat terjadinya kendaraan mogok,” tuturnya.
Pria asal Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, ini sebelumnya sempat bertugas pada perbaikan rel. Menurutnya, ada perbedaan yang sangat menonjol dari pekerjaan yang dilakukan saat ini. Salah satunya, jika sebelumnya dia bekerja dengan banyak orang, kini hanya sendirian saja. Sehingga tidak ada teman untuk berkeluh kesah. “Meskipun petugasnya ada empat, tapi kan waktu kerjanya beda-beda,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital