MAYANG, Radar Jember – Lemahnya penertiban membuat pedagang kaki lima (PKL) semakin nyaman berjualan di depan toko orang atau di pinggir jalan raya. Ini, merupakan wajah sebagian besar pasar di Jember selama 2023 dan sebelum-sebelumnya. Apakah 2024 nanti, PKL masih tetap menjadi yang terdepan?
PKL yang ada di depan toko terjadi di banyak tempat dan hamoir di semua pasar tradisional. Nah, PKL yang tampak di depan toko juga terjadi di Jalan Raung, Pasar Mayang. Beberapa tahun lalu jumlah tak berapa, namun kini hampir di setiap toko ada PKL berjualan. Ini perlu terobosan agar toko bisa nyaman dan PKL punya tempat jualan tanpa harus menutupi toko-toko yang ada.
Di lokasi tempat PKL yang saat ini ada, dulunya merupakan tempat parkir kendaraan. Seiring waktu, PKL membuka lapak atau warung sehingga toko tertutupi dan tempat parkir tiada.
Eko Wahyudi, warga Kalisat yang biasa belanja di Pasar Mayang mengaku heran dengan apa yang terjadi. Menurutnya, parkir sepeda motor atau mobil yang dulu leluasa, kini harus mengalah karena ada warung PKL. “PKL jualannya sembarang. Ada warung makan, bakso, warung kopi. Bahkan ada yang jualan pecah belah seperti gerabah, ini harusnya ditertibkan,” katanya.
Bahkan, di lokasi juga terligat semacam gerobak tempat lapak PKL yang dibiarkan dan ditinggal di lokasi. Ada pula lapak yang sudah usang. “Orang mau masuk pasar bingung, karena pintu utama itu tertutup dengan warung kopi,” jelasnya.
banyaknya PKL di depan pasar Mayang perlu dievaluasi dan ditertibkan. Termasuk di pasar-pasar lain yang ada di Jember. “Evaluasi dan penertiban perlu dilakukan, agar wajah pasar juga tidak kumuh,” jelas Eko.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, PKL paling banyak di depan toko-toko itu berjualan makanan. Selain itu, ukuran lapak yang berbeda-beda dan terlihat kumuh. “Kalau dilihat kumuh, padahal toko di belakang PKL juga jualan. (jum/nur)
Editor : Radar Digital