Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah SA, Anak Tunagrahita yang Dibuang Keluarganya Kini Tinggal di Asrama Dinas Sosial Jember

Radar Digital • Selasa, 12 Desember 2023 | 18:20 WIB
CURAHKAN PERHATIAN: Nur Hasiyati, guru pendamping, memasangkan kaus kaki SA.
CURAHKAN PERHATIAN: Nur Hasiyati, guru pendamping, memasangkan kaus kaki SA.

SA adalah anak yang dibuang keluarganya. Hidupnya disia-siakan. Sejak itu, dia jarang keluar kamar dan jarang bersosialisasi. Kini, namanya telah tercantum pada KK salah satu keluarga. Setidaknya ini bisa membantu mengakses bantuan kesehatan dan pendidikan.

USIA SA masih sepuluh tahun saat ditinggal seorang diri oleh keluarganya di Terminal Tawang Alun Jember. Kondisinya sangat tak terawat. Seperti beruntusan, wajahnya dipenuhi dengan bintik-bintik semacam penyakit kulit. Dia tak mengenali siapa pun dan begitu asing dengan sekelilingnya.

Sejak lahir tak ada satu pun yang mau mengakui anak perempuan itu sebagai bagian dari keluarga. Puncaknya, sekira Agustus 2023, SA dibuang dan ditemukan oleh tim Dinas Sosial (Dinsos) Jember. Tak menunggu lama, SA dibawa ke salah satu asrama di Jember untuk dirawat. Dia memiliki kebutuhan khusus sebagai disabilitas grahita.

Konon, SA adalah anak dari sepasang suami istri dari hubungan pernikahan siri. Dia ditinggal oleh ayah kandungnya. Kemudian, ibunya menikah lagi saat dia masih bayi. Sejak saat itulah SA dirawat oleh sang nenek di satu desa di Jember yang kesehariannya menjadi petani.

Anak itu tak pernah mengenal dunia luar. Tak ada keluarga yang mau menengok apalagi merawat, bahkan mencantumkannya dalam KK dan foto keluarga. Setiap pagi dikunci seorang diri di dalam kamar sampai neneknya pulang dari sawah. Pintu kamarnya hanya dibuka saat sang nenek akan memberikan makan.

Nur Hasiyati, salah satu guru pendamping di SLB, menceritakan, SA memiliki keterbatasan dalam bersosialisasi. Selama hidup tak pernah mendapatkan pengasuhan yang baik. Bahkan keterampilan dasar seperti makan, minum, berbicara, memakai pakaian, dan mandi tak bisa dilakukan mandiri. “Kalau diberi makan di piring ditumpahkan dulu, lalu dimakan seperti kucing,” ungkapnya pilu.

Selama empat bulan ini Nur membersamai hari-harinya. SA tampak begitu nyaman saat bersamanya. SA diketahui memiliki trauma mendalam. Saat melihat pintu selalu diiringi dengan teriakan histeris dan tak segan menjauh. Satu kali ketika pintu kamar ditutup, SA spontan loncat dari jendela kamar karena ketakutan mengingat masa saat bersama neneknya. Namun, sudah lebih dari seratus hari neneknya dikabarkan meninggal dunia.

Selama dua bulan SA juga menolak tidur di kasur. Sebab, dia tak terbiasa. Dia pun tak mengenal banyak kosakata. Yang biasa keluar dari mulutnya hanyalah kata emak, bubuk, mimik, dan kata-kata tak berarti yang dibuatnya sendiri. Saat orang-orang di sekelilingnya memanggil namanya, SA biasa menanggapi dengan jawaban “dalem mak”. Hanya itulah yang dia bisa.

Anak perempuan itu memang nyaris tak pernah kontak mata dan berbicara dengan siapa pun. Di sekolah, dia masih dalam tahap pembiasaan. Mengenal benda-benda dan fungsinya, juga bersosialisasi. Nur bercerita, saat SA diberi pensil, tak lama langsung dikunyah bak makanan. “Memang tak pernah melihat dan tahu benda tersebut. Tapi, dua bulan ini sudah lebih baik setelah kami lakukan pembiasaan,” jelasnya.

SA juga sudah pernah dibawa ke dokter spesialis kulit. Bercak-bercak yang memenuhi wajahnya dikatakan karena virus. Nur yakin, SA jarang bahkan nyaris tak pernah mandi. Sehingga, penyakit-penyakit mudah mengenainya. “Tak punya BPJS, jadi sulit berobatnya,” kata Nur.

Nama SA tidak tercatat dalam KK anggota keluarganya satu pun. Bahkan orang tuanya sendiri. Itulah yang membuatnya sulit mengakses kesehatan dan pendidikan. Dikatakan, ibu kandung SA pernah datang setelah berhasil dihubungi. Kedatangannya hanya membawa kardus berisi akta kelahiran dan tiga potong baju untuk SA. Alih-alih membawa pulang, ibunya hanya mengatakan ingin menitipkan SA di asrama karena harus kembali ke Surabaya untuk bekerja. “Sampai sekarang tak pernah datang atau memberi kabar lagi,” keluhnya.

Tiap kali bertemu orang yang lebih tua, SA kerap menyandarkan tubuhnya dan meminta pangku. Batinnya tak bisa dibohongi bahwa ada banyak ruang kosong yang tak pernah diisi dengan kasih sayang. Seolah ingin merajuk dan bermanja layaknya anak kecil yang lain. Luka masa kecilnya cukup berat. Tak hanya fisik, tapi juga psikis.

Nur hanya berharap ada orang baik hati yang mau peduli untuk mengadopsi dan mencantumkan nama SA dalam KK. Setidaknya agar masa depan SA sedikit lebih cerah. Mendapatkan kasih sayang yang tak pernah didapatkannya dari keluarga. “Tapi, saya masih ingin menggerakkan hati ibunya. Cuma tidak tahu cara mengomunikasikannya,” ujarnya lirih. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #tuna grahita