Di Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, ada acara yang menarik. Ini dilakukan komunitas yang hobi merawat burung merpati. Yakni pelepasan burung merpati. Dalam Bahasa Madura acara tersebut disebut ocolan dere. Seperti apa keseruannya?
Gelak tawa mewarnai ocolan dere yang dilakukan oleh klub Merpati Sapu Jagat Antirogo. Ini diadakan untuk memeriahkan acara pengajian akbar yang dilaksanakan di sekitar kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari.
Dalam ocolan dere tersebut, setiap peserta memperoleh kupon. Menurut Ketua Klub Merpati Sapu Jagat Antirogo Fathor Rohman acara itu tidak rutin. Namun diadakan saat ada pengajian dan beberapa acara penting lain. “Jadi setiap peserta melepas burung daranya. Kemudian burung tersebut akan terbang ke kandangnya sendiri. Burung merpati itu pasti pulang ke rumahnya. Meskipun ada yang dari Ambulu, Sukorambi, maupun dari Bondowoso, merpatinya tetap pulang ke rumahnya,” jelas Fathor.
Nah, bagi peserta yang ikut melepas burung merpati, akan mendapatkan hadiah yang diundi oleh panitia. “Tidak ada pendaftaran maupun biaya yang dikeluarkan oleh peserta. Peserta tinggal datang saja. Ambil kupon, terus diundi. Baru kemudian melepas merpati,” ucapnya.
Acara itu diikuti ribuan orang. Mereka berasal dari sebagian kecamatan yang ada di Jember. Kemudian ada sebagian yang dari Bondowoso. Bahkan ada pula yang dari Lumajang. “Kalau acara seperti ini selalu banyak yang ikut. Apalagi kalau diadakan di hari Minggu,” ujarnya. Dia pun mengajak, siapa saja yang punya burung merpati, bisa ikut. Syaratnya satu, tidak takut burungnya hilang.
Fathor memaparkan hadiahnya berupa uang tunai senilai Rp 700 ribu untuk juara satu, Rp 500 ribu untuk pemenang kedua, dan Rp 300 ribu untuk pemenang ketiga. Selain itu ada pula uang tunai senilai Rp 30 ribu untuk 20 orang. “Kami harap, tradisi ocolan dere ini bisa bertahan. Bahkan bisa berkembang. “Semoga tradisi ini tetap eksis. Pelepasan merpati menolak punah,” pungkasnya. (nur)
Editor : Radar Digital