Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Overload, TPA Pakusari Jember Terima 200 Ton Per Hari, Ketinggian Gunungan Sampah Capai 25 Meter

Radar Digital • Kamis, 9 November 2023 | 21:00 WIB
BUTUH PERHATIAN: Kondisi sampah di TPA Pakusari yang menggunung. Pada musim hujan gunungan sampah tersebut rawan longsor.
BUTUH PERHATIAN: Kondisi sampah di TPA Pakusari yang menggunung. Pada musim hujan gunungan sampah tersebut rawan longsor.

PAKUSARI, Radar Jember – Sudah sejak 31 tahun lalu, atau tepatnya sejak tahun 1992, TPA Pakusari menjadi tempat pembuangan sampah bagi orang Jember. Total diperkirakan ada 7,1 juta ton sampah di sana. Kelebihan kapasitas sudah menjadi masalah utama bagi TPA Pakusari dalam beberapa tahun terakhir. Namun, belum ada solusi tepat untuk mengatasi overload. Bahkan, juga rawan longsor karena ketinggian gunungan sampah telah mencapai 25 meter.

Kepala UPT TPA Pakusari Muhammad Masbut mengatakan, TPA Pakusari menerima sekitar lebih dari 200 ton per harinya. Dia menjelaskan, TPA Pakusari menjadi titik akhir pembuangan sampah dari belasan kecamatan di Jember. Oleh karena itu, tak salah jika tumpukan sampah tersebut semakin lama semakin menjulang tinggi hingga mencapai 25 meter.

Semua jenis sampah baik organik maupun anorganik yang bercampur di TPA Pakusari tentu memiliki kandungan gas metana. Gas metana inilah yang bisa menjadi potensi sumber energi sekaligus tragedi. Tragedi yang dimaksud adalah kebakaran.

Apabila musim kemarau datang, rawan terjadi kebakaran di TPA Pakusari. Sementara, jika musim hujan menerjang, rawan terjadi longsor. “Ketinggian gunungan sampah mencapai 25 meter. Inilah yang rawan longsor jika hujan turun,” paparnya.

Masbud menjelaskan, agar TPA Pakusari tidak overload, bank sampah harus bisa dioptimalkan. Contohnya, sampah plastik, kata dia, cukup berakhir di bank sampah untuk didaur ulang. Sementara, sampah organik seperti sisa sayuran atau makanan rumah tangga bisa berakhir di TPS 3R yang berada di Baratan, Patrang.

Sementara itu, TPA Pakusari hanya menerima sampah residu. Sampah residu yang dimaksud adalah sampah yang tidak bisa didaur ulang lagi atau dimanfaatkan. Misalnya seperti barang bangunan.

Masbut menambahkan, masyarakat seharusnya ikut menjadi aktor dalam menangani persoalan sampah. Pemerintah tidak bisa menjadi faktor utama penentu kesuksesan pengelolaan sampah. Sebagai produsen sampah, masyarakat juga dianjurkan untuk mengelola sampahnya sendiri. “Kesadaran masyarakat terhadap sampah ini yang kurang. Padahal sudah tertera di UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Sampah. Sampah itu seharusnya dikelola dengan proses yang berbasis masyarakat,” jelas Masbut.

Masbut mengatakan, sarana dan prasarana untuk mengelola sampah memang kurang. Namun, bukan berarti hal itu bisa membuat masyarakat membuang sampah seenaknya. “Masyarakat kan banyak yang membuang sampah di lahan kosong. Buang sampah ke sungai juga dianggap biasa. Itu sebenarnya bisa dosa. Dosa jariyah bahkan itu,” ujar Masbut.

Untuk mengatasi kelebihan kapasitas, TPA Pakusari sudah mengusulkan penambahan lahan. Namun, sampai saat ini belum ada tanda-tanda usulan tersebut disetujui. “Mudah-mudahan ada dana. Karena, kalau menunggu kesadaran masyarakat pasti lama. Sampah dipandang barang yang paling tidak berguna. Jadi, masyarakat enteng saja buang sampah. Padahal bisa dijadikan bahan yang berguna itu,” tambah Masbut.

Sekadar informasi, TPA Pakusari sudah mengalami beberapa kali perluasan lahan. Awal mula berdiri tahun 1992, TPA ini memiliki luas 2,5 hektare. Selanjutnya, diadakan perluasan pada tahun 1993 menjadi 5,5 hektare. Akhirnya, dilakukan perluasan lagi karena kapasitasnya dirasa kurang mencukupi. Sampai saat ini, TPA Pakusari memiliki luas sebesar 6,8 hektare. (mg1/c2/dwi)

 

 

Editor : Radar Digital
#Jember #TPA #Sampah