Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Keuntungan Menjanjikan, Warga Karangpring Jember Beralih Menanam Bunga Mawar 

Radar Digital • Kamis, 9 November 2023 | 18:20 WIB

MEGA SILVIA/RADAR JEMBER MENAWAN: Bunga mawar di Desa Karangpring juga menjadi spot foto menarik.
MEGA SILVIA/RADAR JEMBER MENAWAN: Bunga mawar di Desa Karangpring juga menjadi spot foto menarik.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Tidak hanya bisa berbentuk bantuan. Sarana, prasarana, dan berbagai program juga bisa diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan warga yang ada di desa. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Karangpring, Kecamatan Sukorambi. Mereka memberikan fasilitas penanaman bunga mawar. Seperti apa pelaksanaannya?

BIASANYA, bunga mawar hanya dijadikan hiasan di halaman rumah. Berbeda dengan yang dilakukan oleh warga Desa Karangpring. Mereka justru melakukan budi daya tanaman tersebut di sawah layaknya padi dan jagung. Ada puluhan hektare lahan pertanian yang digunakan untuk budi daya bunga mawar. Desa ini memang dikenal sebagai penghasil bunga mawar terbesar di Jember.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, bunga mawar tersebut banyak dijumpai di sawah dan ladang milik warga. Hampir setiap hari mereka memetik bunga yang sudah siap untuk dijual. Perawatannya terbilang cukup mudah. Tidak heran jika banyak petani yang beralih ke budi daya bunga mawar.

Kades Karangpring Ahmad Sahri mengatakan, awalnya warganya rata-rata adalah petani jagung dan padi. Namun, seiring perkembangan waktu, mereka mulai beralih ke bunga mawar dengan keuntungan ekonomis yang cukup menjanjikan. “Momennya mawar dalam satu tahun empat kali. Tapi hasilnya lebih jika dibandingkan tanaman jagung dan padi,” tuturnya.

Waktu yang paling ditunggu petani mawar di antaranya adalah Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, menjelang bulan Ramadan, dan lainnya. Sebab, biasanya mereka bisa menjual bunga mawar dengan harga yang cukup mahal. Berbeda dengan penjualan pada hari-hari biasanya. Satu plastik ukuran sedang bisa dijual dengan harga Rp 150 hingga Rp 200 ribu. Sementara pada hari biasanya hanya Rp 20 ribu hingga 50 ribu saja. “Mawar dari sini memang masih dikenal dengan bunga tabur saja,” katanya.

Melihat hal itu, Sahri mengaku masih mencari terobosan untuk mencari alat pengolahan bunga mawar. Misalnya mesin untuk menyuling bunga menjadi bibit parfum. Melihat banyaknya potensi yang bisa dihasilkan, dia menyayangkan jika potensi tersebut tidak bisa dikelola dengan baik. Selain itu, jika sudah dikelola, maka harganya akan jauh lebih mahal. (ham/c2/dwi)

 

Editor : Radar Digital
#Petani #Mawar