RADARJEMBER.ID – Cerita rakyat merupakan representasi asli masyarakat yang mencerminkan adat-istiadat dan perilaku lokal. Cerita rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dari wisan budaya Indonesia yang harus dijaga, tentunya dengan penyesuaian agar tetap menarik bagi generasi muda.
Cerita rakyat juga berperan sebagai budaya dan nilai-nilai lokal. Ini adalah tradisi lisan yang menceritakan berbagai kejadian dan peristiwa yang mengandung pesan moral, nilai keagamaan, tradisi adat, unsur fantasi, peribahasa, nyanyian, dan mantra. Berikut salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Ambulu, Jember.
Legenda Sumur Gemuling
Di wilayah selatan Kabupaten Jember terdapat sebuah sumur yang terkenal dengan nama Sumur Gemuling. Terdapat berbagai versi mengenai asal-usul sumur ini.
Sumur Gemuling terletak di wilayah pantai selatan, tepatnya di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Sumur Gemuling ini berbeda dengan sumur-sumur biasanya karena posisinya yang miring.
Konon, sumur ini memiliki kaitannya dengan tokoh pendekar yang dihormati dalam perlawanan melawan penjajahan Belanda. Tokoh ini dikenal dengan sebutan “Sogol Pendekat Sumur Gemuling.”
Selain itu, sumur ini juga memiliki keterkaitan erat dengan Kadipaten Puger dan Kadipaten Kutha Blater. Dikisahkan mengenai perseteruan antara dua kadipaten tersebut yang dimulai karena perselisihan terkait lamaran Adipati Puger terhadap Dewi Purbasari, putri Adipati Kutha Blater. Ketika lamaran itu ditolak, Adipati Puger marah dan memulai serangannya dengan membunuh seorang utusan Kadipaten Kutha Blater.
Kemarahan Adipati Puger berlanjut dengan serangan ke Kadipaten Kutha Blater yang merusak desa, lumbung-lumbung padi, dan melukai banyak penduduk. Adipati Kutha Blater bersama prajuritnya membalas serangan, tetapi sayangnya ia berhasil dibunuh oleh Adipati Puger dalam pertempuran.
Putra Adipati Kutha Blater, Arya Blater, marah yang kemudian memimpin pasukan Kadipaten Kutha Blater untuk menghadapi pasukan Puger.
Dalam pertempuran berikutnya, beberapa pasukan Puger terluka dan terbunuh. Hal tersebut dikarenakan kelengahan mereka dengan memilih mabuk untuk merayakan kemenangan.
Bersamaan dengan hal itu, Adipati Puger dan beberapa pasukan lainnya berhasil kabur. Setelah pemulihan, Adipati Puger kembali menyerang Kadipaten Kutha Blater dengan pasukan yang lebih besar. Akibatnya, pasukan Kutha Blater dipaksa melarikan diri.
Arya Blater dan pasukannya berusaha menyelamatkan diri dan tiba di Desa Sumberrejo yang pada awalnya tampak sepi dan ditinggalkan oleh penduduk. Hal tersebut dikarenakan penduduk takut akan pasukan Puger.
Arya Blater kemudian melihat sebuah sumur tua di desa tersebut yang semula dianggap tidak berguna karena airnya terlalu dalam. Dengan doa dan usahanya, ia berhasil memiringkan posisi sumur, sehingga airnya mencapai permukaan.
Prajurit Arya Blater dan warga desa yang menyaksikan insiden ini sangat senang. Karena air dari sumur tersebut dapat diminum. Kemudian Arya Blater dan pengikutnya meninggalkan desa untuk kembali ke kadipaten karena khawatir dengan saudaranya, Dewi Purbasari.
Dewi Purbasari sebenarnya sudah meninggal setelah mengakhiri hidupnya dengan keris ayahnya daripada ditangkap oleh Adipati Puger. (mm6/bud)
Editor : Radar Digital