Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Meski DLH Jember Sediakan Bak Sampah, Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Radar Digital • Senin, 23 Oktober 2023 | 17:20 WIB
“Kami sediakan di pintu masuk dan pintu keluar agar sampah dibuang di bak amrolnya."  SUGIYARTO  Kepala DLH Jember
“Kami sediakan di pintu masuk dan pintu keluar agar sampah dibuang di bak amrolnya." SUGIYARTO Kepala DLH Jember

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember harus bekerja lebih ekstra menangani sampah. Terutama di kawasan pesisir pantai selatan. Seperti halnya di sekitar dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Di kawasan ini, permasalahan sampah belum juga usai.

Meski DLH sudah menyediakan bak amrol sampah, ternyata hal itu belum menjadi solusi jitu. Sebab, masalah sampah semakin hari kian bertambah. Mulai kesadaran menjaga kebersihan masih rendah, perilaku dan mindset yang belum berubah hingga karakter masyarakatnya yang abai terhadap alam. Kondisi ini membuat masalah semakin kompleks.

Sebelum adanya bak amrol, pemerintah menyediakan tempat penampungan sementara (TPS) di sekitar TPI. Akan tetapi jumlahnya terlalu banyak dan melebihi kapasitas. Sehingga saat diangkut, masih banyak sisa sampah di lokasi. Hal itu dikomplain hingga akhirnya TPS di tutup. Setelah TPS ditutup, masyarakat setempat tak punya tempat untuk pembuangan. Sehingga, sampah langsung dibuang di sungai mati, tepat di sebelah TPI. Ini membuat sampah kembali menumpuk dan memunculkan permasalahan baru.

"Akhir tahun lalu pengadaan truk dan bak amrol. Ada dua bak yang kami taruh di sekitar pelabuhan. Kami melihat setiap sore orang-orang membawa dan membuang sampah di kanan dan kiri dermaga. Makanya kami sediakan di pintu masuk dan pintu keluar agar sampah dibuang di bak amrolnya," kata Kepala DLH Jember Sugiyarto.

Menurutnya, keberadaan dua bak amrol ini cukup membantu mengurangi penumpukan sampah. Meski tidak mengatasi masalah seratus persen, tetapi hal itu diharapkan bisa menyadarkan masyarakat sekitar termasuk pedagang maupun pembeli ikan di sekitar lokasi. Namun nyatanya, ini juga masih belum efektif. Sebab, berjalannya waktu, masyarakat tetap membuang sampah sembarangan. Kembali di buang di sungai maupun hanya di sekitar bak amrolnya saja.

Secara prinsip, lanjutnya, tempat sampah memang sudah disediakan. Pemilihan bak amrol pun bukan tanpa alasan. Sebab, di kawasan terbuka seperti dermaga dan TPI, bak amrol bisa mengurangi bau busuk yang ditimbulkan dari sampah.

Akan tetapi karakter masyarakat masih sulit untuk diubah. Yang seharusnya sampah dibuang di dalam bak amrol, hanya di buang di sekitarnya saja. "Jelas ini menjadi beban tambahan. Yang seharusnya kami hanya perlu satu armada dan satu sopir untuk mengangkutnya ke TPA Kencong, kami harus menambah satu tenaga lagi untuk memasukkan sampah ke bak," jelasnya.

Oleh karena itu, Sugiyarto berkoordinasi dengan lintas sektor. Mulai dari OPD lain, akademisi dan pimpinan perguruan tinggi di Jember, hingga pemprov yang menangani kawasan pesisir serta pelabuhan. Hal itu diharapkan bisa mengurangi produksi sampah serta mengubah perilaku masyarakat agar membuang sampah sesuai tempatnya.

"Kalau dengan kampus, kami minta agar mahasiswa yang praktik lapangan juga ikut membantu mensosialisasikan mengenai sampah dan kelestarian lingkungan. Sementara kami terus sinergi dan sosialisasikan ini secara terus-menerus. Tidak hanya masyarakat setempat yang ada di sana saja. Tetapi juga masyarakat yang ada di kawasan hulu," tuturnya.

Sebab, tambah Sugiyarto sampah yang ada di sekitar dermaga juga diproduksi oleh masyarakat yang membuang sampah di sungai sejak di hulu sampai hilir dan muara sungai. (kin/nur)

 

Editor : Radar Digital
#bak sampah #kesadaran masyarakat