Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perlu Dukungan Berbagai Pihak untuk Kembangkan Desa Ramah Perempuan dan Anak

Radar Digital • Jumat, 20 Oktober 2023 | 19:20 WIB
SAYANG ANAK: Direktur Tanoker Farha Ciciek saat mengajari anak-anak untuk bermain permainan tradisional.
SAYANG ANAK: Direktur Tanoker Farha Ciciek saat mengajari anak-anak untuk bermain permainan tradisional.

LEDOKOMBO, Radar Jember - Program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) yang digagas Kementerian PPPA bisa dikembangkan di setiap desa. Sebagai bentuk pengintegrasian perspektif gender dan hak anak ke dalam tata kelola penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, serta pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.

Direktur Tanoker Farha Ciciek memaparkan, peran ibu juga keluarga menempati fungsi penting dalam pengasuhan anak. Hampir di setiap desa terdapat pekerja migran yang meninggalkan anaknya. “Perlu adanya usaha alternatif, diperlukan dukungan berbagai pihak sehingga hak anak dapat terpenuhi dan anak terlindungi,” jelasnya dalam lokakarya penguatan strategi pengasuhan bersama berbasis desa untuk mewujudkan DRPPA di Ledokombo, kemarin (18/10).

Peran komunitas atau lingkungan sekitar diperlukan untuk mendukung pengasuhan anak. Bahkan sebelumnya, harus dipersiapkan agar ketika sang ibu tidak bisa hadir mendampingi anak secara langsung, pengasuhan anak tetap berjalan baik. “Sehingga, kewajiban pengasuhan dan hak mendapatkan pekerjaan yang layak bagi perempuan dapat berjalan secara beriringan tanpa mengabaikan tumbuh kembang anaknya,” terangnya.

Ciciek menjelaskan, tanggung jawab memfasilitasi pengasuhan tumbuh kembang anak pekerja migran Indonesia (PMI) tidak hanya ada pada keluarga. Tapi, semua elemen masyarakat. Secara gotong royong warga sekitar atau lembaga terkait ikut berperan.

Sementara itu, Kepala Divisi Perlindungan Perempuan dan Anak Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pemberdayaan (LPKP) Jawa Timur Sutiah menjelaskan bahwa pengasuhan berbasis budaya menjadi pilihan yang cocok diterapkan. Selain menjunjung budaya lokal, gaya pengasuhan tersebut akan sangat familier dilakukan oleh orang-orang di desa. Termasuk di wilayah Jember.

Pengasuhan berbasis budaya, tambahnya, dipastikan bisa diterima dan mudah dilakukan oleh seluruh masyarakat. Nilai-nilai yang diajarkan turun-temurun dan sesuai dengan lingkungan. “Pembentukan karakter anak agar berperilaku sesuai nilai lokal,” ucapnya.

Sutiah menjelaskan, pengasuhan berbasis budaya menjadi strategi dan gaya pengasuhan yang alami. Ini mudah dipahami karena ada di lingkungan. Ada contoh hasil pengasuhan yang bisa dilihat di depan mata. “Cenderung tidak ada penolakan karena ada bukti,” jelasnya. (sil/c2/dwi)

 

Editor : Radar Digital
#Tanoker #ramah anak