KALIWATES, Radar Jember - Pemkab merelokasi pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kaliwates, ke Jalan Samanhudi, beberapa waktu lalu. Sayangnya, tidak sedikit pedagang yang memilih untuk kembali lagi ke lokasi awal. Alasannya masih sama, karena pendapatannya menurun drastis.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, masih ada PKL yang tetap berjualan di Jalan Gajah Mada. Bila dihitung, dari Jalan Gajah Mada hingga Jalan Sultan Agung, kurang lebih ada tujuh PKL yang berjualan pada sore hari. Jumlah itu meningkat bila malam hari, yaitu sekitar 15 PKL. Jumlah tersebut juga lebih banyak dari PKL yang berjualan di Jalan Samanhudi pada malam hari, yaitu hanya 13 PKL.
PKL Jalan Gajah Mada, Wawan, mengatakan, pindah berjualan di Jalan Samanhudi sangat memengaruhi pendapatannya. Hari pertama dirinya hanya dapat Rp 4 ribu dan hari kedua Rp 9 ribu. Oleh alasan itu, dia memutuskan untuk berjualan di tempat sebelumnya. "Kalau di sini (Jalan Gajah Mada, Red) paling tidak dapat Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per hari,” katanya.
Tak hanya itu, berjualan di Jalan Samanhudi juga ada aturan mainnya. Mulai dari pukul 5 sore hingga 12 malam. Pada waktu tersebut, kondisi jalan sudah sepi. "Jualan di Jalan Samanhudi harus sore dan malam, karena nunggu toko-toko di sana tutup," lanjutnya.
Wawan yang sudah berjualan 6 tahun tersebut menyatakan, jika ada penertiban kembali, maka dia telah siap pasang badan. Dia menegaskan tetap tidak mau pindah, demi mendapatkan penghasilan yang dibutuhkan untuk mencukupi keluarganya. "Soalnya di sana sepi," jelasnya.
Hal senada dikatakan oleh Supriyanto, pedagang di Jalan Gajah Mada lainnya. Menurutnya, relokasi yang dilakukan dianggap merugikan PKL. Sebab, dia mengaku banyak kehilangan pelanggan. Ditambahkan pedagang hanya disuruh pindah. "Tidak ada uang kompensasi," imbuhnya.
Karena merasa dirugikan, dia kembali berjualan di Jalan Gajah Mada. Sebab, penertiban tersebut dilakukan bagi PKL yang menempati trotoar. Selama tidak mengganggu pejalan kaki, dirinya tidak merasa melakukan pelanggaran. "Seharusnya yang jualan di Jembatan Jompo itu yang ditertibkan. Itu kan trotoar," imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, PKL Samanhudi, Muhammad Ali, mengatakan, lebih baik mengikuti apa yang diperintah. Sebab, dirinya tidak ingin mempunyai masalah jika tetap berjualan di tempat yang dilarang. "Ya sudah, nurut aja," jawabnya.
Meski demikian, dia mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak pindah ke Jalan Samanhudi. Namun, semua dilakukannya agar tetap bisa berjualan dan memenuhi kebutuhan keluarganya. "Kalau sebelumnya bersih bisa Rp 250 ribu, tapi sekarang hanya Rp 75 ribu," ucapnya.
Tidak hanya Ali, Hendrawan, PKL asli Jalan Samanhudi, mengaku dari dulu memang sepi pembeli. Namun, berapa pun pendapatannya, selalu disyukurinya. "Namanya jualan, kan nggak ramai terus," tuturnya. Selama ini, Jalan Samanhudi memang dipenuhi penjual sayuran. Hanya satu dua orang yang menjajakan minuman maupun makanan, termasuk dirinya. Jadi, tidak ada permasalahan jika pendapatannya menurun. "Toh, besok bisa jualan lagi," ucapnya.
Sementara itu, pelaku UMKM di daerah kampus, Arintoko, mengaku, hanya waktu yang menjawab PKL Jalan Samanhudi itu ramai pembeli. “Kalau semua PKL di sana semua dan menjadi pusat PKL pada malam hari, pembeli akan datang dengan sendirinya. Butuh waktu memang,” tuturnya. (mg15/ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital