RADARJEMBER.ID – Tak hanya pameran bebatuan, pameran arsip Kalisat Tempo Dulu 8 juga menghadirkan seniman-seniman lokal dan internasional.
Seniman dan komunitas lokal yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain adalah Windy Wiryawan, Achmad Pandi, Imam Jazuli, dan Rumah Pintar Karangharjo Silo.
Sedangkan, seniman internasional yang hadir adalah Sari Shibata (Jepang), kolektif Gruppe 19 (Austria), dan Rose Barnsley (Australia).
Kolektif Gruppe 19 mencakup seniman Lea Daniella dan Cornel Christian. Juli lalu, keduanya berangkat ke Indonesia dan menginap di Kalisat untuk bergabung dengan Sudut Kalisat dan melakukan kegiatan kunjungan gumuk di sekitar Kalisat. Untuk pameran Kalisat Tempo Dulu mereka menyumbangkan beberapa sketsa yang dibuat dengan metode plein air.
Demikian pula dengan kunjungan seniman Rose Barnsley sempat berkunjung ke Jember dalam rangka pertukaran di Universitas Jember. Pada kunjungan ke Jember, Rose ikut serta dalam berproses bersama Sudut Kalisat. Ia menyusuri tepian sungai mengamati batuan dan menyebutkan kemiripan lempeng tektonik antara Jawa Timur dan Australia. Karyanya dalam Kalisat Tempo Dulu 8 berupa puisi yang terdapat di depan ruang pameran.
Sari Shibata menjadi satu-satunya seniman luar negeri yang belum pernah ke Kalisat sebelumnya. Ia mempresentasikan serangkaian karya fotografi yang berfokus pada fenomena baru yang disebut batuan plastik atau yang belakangan ini disebut para ilmuwan sebagai plastiglomerate.
Karya fotografi yang diberi judul “Anthropocene Plastics” (2023) ini merupakan hasil perjalanan ke pesisir pantai Pulau Hokkaido, dimana Sari menemukan berbagai potongan plastik keras menyerupai bebatuan yang tergeletak di antara terumbu karang. Batuan plastik ini dihasilkan dari sampah plastik yang dibuang ke laut dan kemudian menerima tekanan dan benturan ombak selama berpuluh-puluh tahun.
Mulanya, Sari terkecoh dan berpikir bahwa batuan warna-warni yang ditemukannya ini alami, sebab sekilas memiliki karakter permukaan dan kepadatan yang sama dengan batuan disekitarnya. Beberapa batuan plastik tersebut menyatu dengan material lain seperti kerikil, pasir, atau kayu.
Karya seni ini, dipadukan dengan arsip batuan yang dikumpulkan dari berbagai lokasi, membawa pengunjung pada pemahaman mendalam tentang proses geologis dan sejarah lingkungan di kawasan Kalisat. Melalui pameran ini, Sudut Kalisat berharap dapat mengajak pengunjung untuk belajar dari bebatuan yang sebelumnya dianggap tidak ada artinya. (mm2/bud)
Editor : Radar Digital