SUMBERSARI, Radar Jember – Uji coba penerapan sistem satu arah (SSA) di Jalan Jawa sudah diawali, pagi kemarin (2/10). Rekayasa lalu lintas (lalin) itu berhasil membuat sepanjang jalan tersebut lebih lancar. Namun demikian, ini dinilai oleh warga tidak efektif karena imbasnya terjadi kepadatan pada ruas jalan tertentu, seperti Jalan Kalimantan, Mastrip, hingga Riau.
Sementara itu, warga yang biasa melintasi jalan Jawa baik pagi dan sore hari menyampaikan penerapan sistem satu arah di daerah kampus tersebut kurang efektif. Ini, karena banyak orang harus berputar untuk bisa sampai ke jalan Jawa yang dimaksud.
Menurut Chandra, warga yang kerap melintas di jalur itu menyebutkan, biasanya untuk bisa sampai ke tempat sekolah yang ada di sekitar Jalan Jawa hanya perlu waktu sekitar 10 menit. Akan tetapi, karena harus berputar, dia butuh waktu lebih lama yakni sampai 20 menit. Bahkan ada warga yang sampai 30 menit lebih.
Sejumlah warga juga menyampaikan pendapatnya melalui media sosial instagram radarjember.id. Ada yang setuju seperti Solehan, namun tak menyampaikan alasannya. Kendati ada yang setuju, namun jumlahnya minim. Lebih banyak warga yang tidak setuju. Mereka yang tidak setuju menilai penerapan SSA tidak efektif, seperti disampaikan Fajar dan Rudi. Keduanya menyebut, penerapan SSA bukan solusi, melainkan menambah kepadatan dan masalah baru di ruas jalan yang lain.
Selain itu, juga banyak yang menyarankan agar pemerintah melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL), ketimbang menerapkan SSA di jalan Jawa. “PKL dibahu jalan itu, perlu direlokasi, jalan satu arah tidak bisa jadi solusi, malah jadi masalah baru,” jelas Fajar.
Seperti diketahui, Dinas Perhubungan (Dishub) memberikan jalan alternatif menuju Jalan Jawa melalui Jalan Nias atau Riau. Fakta yang terjadi, banyak orang memilih Jalan Kalimantan menuju Riau untuk sampai ke tujuannya di Jalan Jawa maupun area sekitarnya.
Penerapan SSA ini dimulai tepat pada pukul 06.00. Petugas Dishub dan Satlantas menyebar, berjaga di berbagai titik. Sebagian besar pengendara ada sudah mengetahuinya, namun tak sedikit pula yang baru tau dan akhirnya harus balik kanan dan mencari jalan alternatif. Ada beberapa pengendara motor berpelat merah hingga tentara sempat memaksa melewati Jalan Jawa dari arah barat (DPRD), namun kebijakan baru tersebut tetap berlaku untuk semuanya kecuali angkot.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, puncak keramaian menuju dan dari Jalan Jawa terjadi pada pukul 06.30. Pada saat jam keberangkatan anak sekolah dan orang berangkat kerja. Sejumlah orang tua yang mengantar anak sekolah memilih menurunkan di ruas jalan sebelum masuk Jalan Jawa dibandingkan harus berputar melewati jalan alternatif. Kemudian anak tinggal jalan beberapa meter menuju SMPN 3 atau SMAN 2. Dalam dua jam itu, ada enam angkot yang terpantau lewat, tetapi paling banyak hanya membawa empat penumpang.
Kepala Dishub Jember Agus Wijaya menyampaikan, secara keseluruhan uji coba SSA pagi kemarin berjalan lancar. Meski diakuinya dampaknya terjadi kepadatan di Jalan Kalimantan, Mastrip, dan Riau. Imbas tersebut, kata dia, sudah diprediksinya sejak awal. Sehingga petugas menerapkan sistem buka tutup jalur di simpang empat dari dan menuju Jalan Riau.
Kendaraan yang melaju dari dan menuju arah Jalan Kaliurang dan Tidar tentu mendapatkan dampaknya. Menurutnya, itu merupakan perlambatan imbas dari pengalihan arus. “Penutupan jalan memang ada dampak, itu akan kami pelajari,” tuturnya, siang kemarin.
Pihaknya juga mengantisipasi dengan menambah petugas lebih banyak. Utamanya di Jalan Mastrip. Selama penerapan SSA, Dishub juga telah memperpanjang durasi siklus lampu lalu lintas di simpang empat Jalan Kalimantan. “Dari 22 detik kami tambah menjadi 30 detik,” sebut Agus.
Dalam satu Minggu ini, Dishub dan instansi terkait akan terus mengkaji dan melakukan evaluasi efektifitasnya. Sementara ini, Agus belum berani memberikan kesimpulan dari hasil uji coba SSA. Dia memperkirakan sistem tersebut akan dilakukan dan diamati hingga tiga bulan ke depan. “Prinsipnya, kami ingin membiasakan pola baru untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi,” urainya.
Membentuk pola baru di tengah masyarakat dengan cara tersebut diharapnya bisa terwujud. Di samping menghidupkan angkutan umum, kepadatan lalin di area kampus terutama di Jalan Jawa bisa teratasi. Wacana selanjutnya, Dishub akan memberlakukan SSA di beberapa jalan di area Kampus.
Untuk diketahui, uji coba SSA Jalan Jawa berlaku sejak kemarin. Semua kendaraan, kecuali angkot, tidak bisa masuk Jalan Jawa dari arah barat pada pukul 06.00 sampai 08.00 dan sore hari pada pukul 16.00 hingga 18.00. Ini berlaku setiap hari, selain hari libur. (sil/nur)
Editor : Radar Digital