Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perjuangan Pecandu yang Tobat Konsumsi Okerbaya gara-gara Baca Buku Psikologi

Radar Digital • Senin, 2 Oktober 2023 | 16:20 WIB

 

BERBAGI KISAH: JA menceritakan pengalamannya selama enam tahun menjadi pengguna okerbaya.
BERBAGI KISAH: JA menceritakan pengalamannya selama enam tahun menjadi pengguna okerbaya.

Adiksinya pada obat keras berbahaya (okerbaya) tak bisa dibendungnya hingga masa kuliah. Tapi, sebuah buku mengantarkannya pada kesadaran dan meninggalkan dunia kelam itu dalam sekejap.

 

SEPULUH butir pil adalah makanan pokoknya sehari-hari, kala itu. Tak ada hari tanpa menenggak pil yang kini kerap disebut obat keras berbahaya (okerbaya) itu. Tak ada yang tahu, kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak di bangku SMP.

Menurutnya, 15 tahun silam atau tepatnya 2007 adalah kali pertama JA coba-coba. Seorang kawan yang mengenalkannya. Saat itu, obat batuk kering jenis dextro yang membuatnya ketagihan. Harganya relatif murah, sehingga sangat bisa terbeli. Hanya Rp 5 ribu setiap 20 butir. “Supplier obat terang-terangan dulu, semua orang tidak pandang usia dilayani,” ujarnya memulai cerita.

Dalam benaknya, minum obat adalah keren dan bisa diterima di lingkungan yang dipenuhi orang-orang asyik. Apalagi mendapatkan efek semangat dan lebih aktif setelah meminumnya. Sekolah seharian, main bola, tidak akan membuatnya letih.

Meski orang tuanya sempat dipanggil ke sekolah karena tertangkap basah, tapi tak membuatnya jera. Kebiasaan itu terus berjalan sembunyi-sembunyi. Usia remaja memang cenderung berperilaku tak terduga. Ingin bebas dan senang-senang. Itulah yang membuat JA semakin mengeksplorasi adiksinya pada obat-obatan saat masuk bangku SMA. Berbagai jenis obat dicobanya.

Uang saku yang terbatas karena hidup di kos-kosan tak membuatnya hilang akal. JA kerap mendapatkan obat jenis lain dari klinik salah satu sekolah negeri di Jember. Cukup memperlihatkan kartu pelajar dan memberi tahu keluhan sakitnya, satu tablet obat berhasil dikantonginya pulang. Dia selalu meminta obat batuk kering. “Setelah minum seperti melihat hologram masa lalu, dan itulah yang ingin saya lupakan,” ucap mantan pengguna okerbaya itu.

Tahun demi tahun, JA semakin naik level. Saat kuliah, obat sudah menjadi kebutuhannya. Imbas rutinitas yang membuatnya kaget. Jam kuliah padat, tugas tak ada hentinya, sedangkan masa mudanya tak ingin habis karena rutinitas akademik. “Masih pengen seneng-seneng, tapi sudah dibebani tanggung jawab kuliah. Saya butuh waktu, jadi malam hari saya cangkruk,” katanya.

Definisi rasa senang itu dicarinya dari butiran-butiran pil yang dipercayanya memberi apa yang dicari. Imajinasinya menjadi-jadi. Rasa kantuk hampir tidak dirasakan meski tak tidur seharian. Jika efek-efek itu mulai hilang, setiap dua jam JA menenggaknya kembali. Itu juga dibarengi dengan minum dan rokok. Begitu saja hari-harinya. Siang kuliah, malam mencari kesenangan.

Di satu rumah kontrakan bersama kawan-kawannya, JA memiliki seribu tablet obat jenis trex untuk stok empat hari. Seorang bandar dari luar kota sudah dikenalnya. Saat stok habis, bandar itu dengan senang hati akan mengantarkannya lagi. “Saat itu belum kepikiran cari tempat senang-senang lain,” ujarnya.

Selama enam tahun, adiksinya menenggak obat tiba-tiba hilang dalam sekejap. Usai membaca salah satu buku psikologi karya Ibrahim Elfiky. Buku setebal 347 halaman itu mengantarkannya pada sebuah kesadaran arti kebahagiaan yang sebenarnya. Kesenangan yang didapatkannya setelah minum obat ternyata semu. Ditambah dengan kejenuhan yang mulai mendera. Juga karena kuliahnya mulai terhambat. “Kebahagiaan bukan tentang imajinasi liar yang sering datang saat memakai obat,” tutur JA.

Sejak saat itu, JA sering membaca buku. Kebiasaannya dialihkan dengan memperbaiki pola hidup, fitness, berhenti merokok, bahkan keluar dari kontrakan demi meninggalkan lingkungan gelapnya. Lambat laun, teman-temannya mengikuti jejaknya, berhenti satu per satu.

Masuk semester tiga, hari-harinya mulai disibukkan dengan buku. Rasa penasarannya pada ilmu pengetahuan semakin kuat. Sejak itu pula, perpustakaan adalah tempat kesukaannya mengasah dan mengasuh diri. JA seperti memiliki dunia baru. Dunianya yang lalu tak akan pernah dijamahnya lagi.

Tak ada rasa sesal sedikit pun. JA menjadikan pilihan masa lalunya sebagai pelajaran hidup berharga. Setidaknya, satu pelajaran tentang bersosial dan menjalin persahabatan bisa diraihnya hingga masa dewasanya sekarang. “Dari itu aku tahu ternyata tidak ada namanya gelap, tapi yang ada hanya kurang cahaya,” pungkasnya. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Okerbaya #kecanduan